Tanbihun Online

Definisi Tamak & Penjelasannya

Definisi Tamak & Penjelasannya

Definisi Tamak & Penjelasannya
March 17
11:13 2011

Tanbihun – Dalam diri manusia terdapat 2 sifat, yaitu: baik dan buruk. Sifat yang baik dilandaskan atas dasar rasa keimanan, ketakwaan dan kemanusiaan, manakala sifat buruk selalu didorong nafsu, seperti: sifat kebinatangan, kejahilan dan ingkar akan perintah Allah. Kedua sifat ini saling bertentangan antara satu sama lain. Jika iman dan takwa lebih berkuasa, maka hidup seseorang akan aman daripada pengaruh sifat buruk yang didalangi syaitan. Diantara sifat buruk yang kita kenal adalah tamak, yaitu sifat yang berlawanan dengan Qanaah (menerima dengan lapang dada).

Secara bahasa tamak berarti rakus hatinya. Sedang menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar[1].

Dari definisi diatas bisa kita fahami, bahwa tamak adalah sikap rakus terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan tanpa memperhitungkan mana yang halal dan haram. Sifat ini dijelaskan oleh Syeikh Ahmad Rifai sebagai sebab timbulnya rasa dengki, hasud, permusuhan dan perbuatan keji dan mungkar lainnya, yang kemudian pada penghujungnya mengakibatkan manusia lupa kepada Allah SWT, kehidupan akhirat serta menjauhi kewajiban agama.

Sifat rakus terhadap dunia menyebabkan manusia menjadi hina, sifat ini digambarkan oleh beliau seperti orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya. Maksudnya, bertambahnya harta tidak akan menghasilkan kepuasan hidup karena keberhasilan dalam mengumpulkan harta akan menimbulkan harapan untuk mendapatkan harta benda baru yang lebih banyak.[2] Orang yang tamak senantiasa lapar dan dahaga kehidupan dunia. Makin banyak yang diperoleh dan menjadi miliknya, semakin rasa lapar dan dahaga untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Jadi, mereka sebenarnya tidak dapat menikmati kebaikan dari apa yang dimiliki, tetapi sebaliknya menjadi satu bebanan hidup.

Selanjutnya, kehidupannya hanya disibukkan untuk terus mendapat apa yang diinginkannya, karena orang tamak lupa tujuan sebenarnya amanah hidup di dunia ini. Mereka tidak peduli hal lain, melainkan mengisi segenap ruang untuk memuaskan nafsu tamaknya. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai khalifah untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai hamba-Nya. Seperti dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْن

“ Dan ِAku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”[3]

Tamak timbul dari waham iaitu ragu-ragu dengan rezeki yang dijamin oleh Allah SWT.  Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan: “Tak ada yang lebih mendorong kepada Tamak melainkan imajinasi (waham) itu sendiri”, Dorongan imajinatif, dan lamunan-lamunan panjang yang palsu senantiasa menjuruskan kita pada ketamakan dan segala bentuk keinginan yang ada kaitannya dengan kekuatan, kekuasaan, dan fasilitas makhluk. Waham atau imajinasi itulah yang memproduksi hijab-hijab penghalang antara kita dengan Allah SWT, Sehingga pencerahan cahaya yakin sirna ditutup oleh hal-hal yang imajiner belaka.

Sebagian orang arif berkata, “Jangan sampai anda menduga bahwa diri anda hadir di depan Allah sementara ada sesuatu di belakang anda yang masih menarik diri anda.”

Maka perlu kita renungkan firman Allah SWT dalam surat Asy-Syu’araa’ ayat 88-89:

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَّلاَ بَنُوْنَ (88) إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ

 

88. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,

89. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

Qalb al-Salim adalah hati yang selamat dari segala hal selain Allah SWT. Kesimpulannya memang imajinasi itu menjadi hijab.

Dari segi implementasinya,  hijab terbagi dalam tiga macam:

1. Hijab kaum awam, berupa dorongan imajinatif untuk bergantung dengan sesama makhluk dan terhalang untuk berjalan menuju kepada Allah.

2. Hijab kaum khawash (kalangan khusus) manakala masih berbekas adanya wujud dunia dan terpaku pada cahaya-cahaya pencerahan.

3. Hijab kaum khawas al- khawash (kalangan sangat khusus) adalah halangan yang terbebas dari hijab.

 

Karena itu jika ketamakan menyimpulkan kehinaan, sementara ubudiyah, yaqin dan wara’ menumbuhkan kemuliaan dan kebebasan, maka dalam matan Al-Hikam-nya, beliau melanjutkan: “Anda adalah bebas merdeka manakala asa anda putus dari orang yang anda tamaki, dan anda menjadi budak bagi yang anda harapkan.” Padahal seluruh jagad semesta ini adalah hamba Allah dan tunduk atas perintah-Nya. Jika anda berada dan bersama dengan jagad semesta, sepanjang tidak melihat yang mencipta alam semesta, maka alam semestalah yang bersama anda, siapa yang menjadi hamba Allah, berarti bebas dari segala hal selain Allah.

 

Orang yang ragu-ragu terhadap jaminan Allah SWT menafikan kewajiban yang diamanatkan kepadanya serta rajin mencari apa yang dijamin untuknya sehingga mengambil yang menjadi jaminan untuk orang lain. Inilah yang terjadi pada orang tamak. Bagaimana bisa dia menghampiri Allah, jika amanat yang diserahkan kepadanya diabaikan dan tanggungjawab yang dipikulkan kepadanya pun ia campakkan. Tamak dan sangkaan tidak berpisah. Kekuasaan, pangkat dan harta tidak memerdekakan seseorang yang tamak, dia hanya boleh merdeka jika dia membuang sifat ini. Apabila tidak ada lagi keinginannya untuk memiliki apa yang berada di dalam tangan orang lain, barulah dia bebas berjalan menuju Allah SWT.

Allah SWT memberi ancaman keras kepada mereka yang tamak, dijelaskan dalam surah Al-‘Aadiyat ayat 6-11:

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَّلاَ بَنُوْنَ (88) إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍإِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُوْدٌ (6) وَإِنَّهُ عَلىَ ذَالِكَ لَشَهِيْدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ (8)

أَفَلاَ يَعْلَمُ إِذَابُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِ (9) وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُوْرِ (10)

إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيْرٌ (11)

6. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,

7. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,

8. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta[4].

9. Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,

10. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,

11. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka.

Dalam surah al-Fajr ayat 16-23, Allah berfirman:

وَأَمَّا إِذَا مَاابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُوْلُ رَبِّيْ أَهَانَنِ (16)

كَلاَّ بَلْ لاَّ تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَ (17) وَلاَ تَحَاضُّوْنَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنَ (18)

وَتَأْكُلُوْنَ التُّرَاثَ أَكْلاً لَّمًّا (19) وَتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا (20)

كَلاَّ إِذَا دُكَّتِ اْلاَرْضُ دَكًّا دَكًّا (21) وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّاصَفًّا (22)

وَجِاىْ ءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَّتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى (23)

Artinya:

16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”[5].

17. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim[6],

18. Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,

19. Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil),

20. Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.

21. Jangan (berbuat demikian). apabila bumi digoncangkan berturut-turut,

22. Dan datanglah Tuhanmu; sedang Malaikat berbaris-baris.

23. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.

Syeikh Abul Abbas al-Mursy berkata: “Demi Allah, saya tidak melihat kemuliaan kecuali menghilangkan hasrat terhadap sesama makhluk.” Mari kita contoh Nabiyullah Ibrahim as, ketika mengatakan, “Sesungguhnya aku tidak senang dengan yang bisa sirna, Padahal segala hal selain Allah adalah sirna.” Ketika Nabi Ibrahim dihukum oleh Raja Namrud untuk dibakar, Malaikat Jibril As, ingin sekali menolongnya. “Apa kau memerlukan sesuatu (pertolongan?)” tawar Jibril. “Kalau untukmu tidak, tetapi kalau kepada Allah, memang!” Jawab Nabi Ibrahim as, “kalau begitu mohonlah kepada-Nya.” Lalu Nabi Ibrahim balik menjawab, “Cukuplah permohonanku bahwa Dia mengetahui kondisiku.” Coba kita renungkan bagaimana Nabi Ibrahim as, menghilangkan keterkaitan sesama makhluk termasuk dengan Jibril as, dan hanya memohon pertolongan dengan Allah, dan itu pun dengan kalimat kepasrahan total kepada Allah.

 

Kisah Abul Abbas al-Mursy ketika masa awal di Iskandariyah, suatu ketika ingin sedekah kepada orang yang ia kenal dengan harga separo dirham. “Saya berkata dalam diri saya, siapa tahu ia tidak mau mengambil uang saya, karena kenal saya.” Tiba-tiba muncul hatif/hawatif (bisikan ruhani) “Keselamatan dalam agama itu melalui sikap meninggalkan tamak terhadap sesama.” Beliau dijaga oleh Allah sehingga tidak terjerumus dalam tamak. Bahkan beliau juga mengatakan, “Orang yang tamak tak pernah kenyang selamanya. Lihatlah kata Tamak terdiri dari huruf-huruf yang berlubang: Tha’  ,ط : Mim :م   , ‘Ain : , ع   semua huruf ini apabila di satukan maka akan berlubang, yaitu: طمع .

 

Abul Hasan Al-Warraq ra berkata, “Siapa yang merasakan cinta terhadap sesuatu dari dunia, berarti ia telah dibunuh oleh pedang ketamakan. Kalau tamak ditanya siapa bapakmu? Maka sang tamak mengatakan, “Keraguan terhadap takdir .”.

Kalau ditanya apa pekerjaanmu wahai tamak? “Pekerjaanku adalah menciptakan kehinaan.” Jika ditanya apa tujuanmu? “Tujuanku adalah menghalangi hamba dengan Allah.”

 

Cara mengobati penyakit tamak:

Obat  dari penyakit ini terdiri dari tiga unsur, yaitu : sabar, ilmu, dan amal. Secara keseluruhan terangkum dalam hal-hal berikut ini:

1. Ekonomis dalam kehidupan dan arif dalam membelanjakan harta.

2. Jika seseorang bisa mendapatkan keperluan yang mencukupinya, maka dia tidak perlu gusar memikirkan masa depan, yang bisa dibantu dengan membatasi harapan-harapan yang hendak dicapainya dan merasa yakin bahwa dia pasti akan mendapatkan rezeki dari Allah. Jika sebuah pintu rezeki tertutup baginya, sesungguhnya rezeki akan tetap menunggunya di pintu-pintu yang lain. Oleh karena itu hatinya tidak perlu merasa gusar, sebagaimana di jelaskan dalam surat Al-‘Ankabut ayat 60:

وَكَأَيِّنْ مِّنْ دَابَّةٍ لاَّ تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

 

Artinya: “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu, dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

3. Hendaklah dia mengetahui bahwa qana`ah itu adalah kemuliaan karena sudah merasa tercukupi, dalam kerakusan dan tamak itu ada kehinaan karena dengan kedua sifat tersebut dia merasa tidak pernah cukup. Barangsiapa yang lebih mementingkan hawa nafsunya dibandingkan kemuliaan dirinya, berarti dia adalah orang yang lemah akalnya dan tipis imannya.

4. Memikirkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, orang-orang yang hina dan bodoh karena tenggelam dalam kenikmatan. Setelah itu hendaklah dia melihat kepada para nabi dan orang shalih, menyimak perkataan dan keadaan mereka, lalu menyuruh akalnya untuk memilih antara makhluk yang mulia di sisi Allah ataukah menyerupai penghuni dunia yang hina.

5. Dia harus mengerti bahwa menumpuk harta itu bisa menimbulkan dampak yang kurang baik[7]. Rasulullah SAW bersabda:


أُنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَأِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

 

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.” (Hadits riwayat Muslim). Hadits ini berlaku dalam urusan dunia. Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaklah setiap muslim berlomba-lomba untuk mencapai derajat kedudukan tertinggi. Penopang urusan ini adalah sabar dan membatasi harapan serta menyadari bahwa sasaran kesabarannya di dunia hanya berlangsung tidak seberapa lama untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi, seperti orang sakit yang harus menunggu pahitnya obat saat menelannya, karena dia mengharapkan kesembuhan selama-lamanya. Karena itu wahai penempuh Jalan Ilahi, hendaknya anda menghilangkan hasrat harapanmu kepada sesama makhluk, dan jangan membuat dirimu hina di hadapan mereka, dalam soal rizki, dimana bagiannya telah tergariskan.”

Rasulullah SAW pernah bersabda yang maksudnya: “Hari kiamat telah hampir dan manusia masih lagi bertambah tamak kepada dunia dan bertambah jauh dengan Allah.” (Hadis riwayat Tirmizi, Ibnu Majah dan Hakim).

Para ulama mengatakan bahwa:

 

 

Artinya: “Tidaklah panjang dahan kehinaan melainkan yang tumbuh dari benih tamak”.

Tamak diibaratkan sebagai benih yang menumbuhkan pohon kehinaan. Dahan-dahan kehinaan akan menjalar  dan terhulur ke sana ke mari, sehingga akan semakin bercabang kepada penyakit lainnya, penyakit tamak akan mengikis perasaan malu dan menghapuskan harga diri, dia menjadi hina dalam pandangan makhluk dan lebih buruk lagi kedudukannya di sisi Allah SWT. Dia umpama anjing yang lidahnya selalu terjulur melihat apa yang ada di tangan orang lain. Si anjing tidak memperdulikan apakah ia dimaki, diusir atau dipukul asalkan ia bisa mendapatkan apa yang ia mau. Si tamak melihat seolah-olah rezeki untuknya tidak terbatas, sementara rezeki orang lain masuk di dalam rezekinya, sebab itu menjadi hak untuk mengambil hak orang lain. Si tamak tidak memperdulikan bagaimana dia mendapatkan apa yang dia hajatkan, apakah dengan menengadahkan kedua tangan, memujuk rayu, menipu ataupun memaksa.

Dasar pijakan hukum lainnya, sebagaimana dalam surah Asy Syuraa ayat 20:

 

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ اْلأَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِىْ حَرْثِهِ , وَمَنْ كاَنَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا , وَمَا لَهُ فِى اْلأَخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ .

 

Artinya: “ Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” Ayat ini menjelaskan bahwa aspek ke-rakus-an manusia lebih cenderung terhadap unsur-unsur bendawi (uang, kemuliaan dunia berupa jabatan dan imbalan yang diterima).

Orang yang tamak dalam mencari kesenangan duniawi, sanggup melakukan apa saja asalkan tujuannya tercapai, walaupun perbuatan itu bertentangan dengan syariat. Sikap tamak meletakkan urusan mencari kekayaan dan kedudukan dengan jalan keterlaluan dan terdorong melakukan perbuatan salah.

Sebagaimana para ulama berpendapat:

هِيَ الدُّنْيَا أَقَلُّ مِنَ الْقَلِيْلِ , وَعَاشِقُهَا أَذَلُّ مِنَ الذَّلِيْلِ

 

“Yang dinamakan dunia (harta, kemewahan. pangkat dan jabatan) itu semua sedikit tidak ada nilainya, adapun orang-orang yang selalu asyik dan terlena kepadanya (dunia), maka ia termasuk dalam golongan yang hina”.

 

Orang tamak senantiasa tidak puas dan cukup dengan apa yang dimiliki. Sikap terlalu cintakan kebendaan dan kemewahan mendorong perasaan untuk memiliki semua apa yang ada di dunia ini. Orang-orang ini sekalipun secara lahiriyah memiliki segalanya, tetapi bathinnya kosong dan selalu tidak puas dengan pemberian dan anugerah Allah SWT. Sebagaimana dinyatakan oleh ulama:

 

هِيَ الدُّنْيَا أَقَلُّ مِنَ الْقَلِيْلِ , وَعَاشِقُهَا أَذَلُّ مِنَ الذَّلِيْلِوَالْحَرِيْصُ فَقِيْرٌ وَلَوْ كَانَ مِلْكَ الدُّنْيَا

 

“Orang tamak itu fakir hatinya, walaupun ia memiliki dunia beserta isinya”[9].

 

orang tamak tidak pernah merasa dirinya sebagai hamba-Nya. Sebaliknya, mereka menjadi hamba kepada dunia dan bertuhankan nafsu. Mereka mempertaruhkan seluruh usaha dan fikirannya untuk mengejar bayang kemewahan dunia. Oleh karena itu, mari kita telaah firman Allah SWT:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَ دُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ,

وَمَنْ يَّفْعَلْ ذَالِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka Itulah orang-orang yang merugi”.

 

Ibnu dahlan El-Madary

Shollallahu Ala Muhammad Wa Aalihi

Seri Kembangan, Sungai Besi, Kuala lumpur

12 Rabiul Akhir 1432H/17 Maret 2011:09:45PM.


[1] Syeh Ahmad Rifa’I, Riayah Akhir, Bab Ilmu Tasawuf, Korasan 21, Halaman 8, baris 3, bisa juga lihat dalam kitab karangan beliau lainnya seperti dalam Abyan al-Hawaaij, Asn Al-Miqashad beliau menjelaskan tamak adalah: Lebih banyak berharap kepada dunia, tanpa memperhitungkan haram dan dosa besar.

[2] Shodiq Abdullah, Islam Tarjumah: Komunitas, Doktrin dan tradisi, RaSAIL: Semarang, Desember 2006, halaman 134

[3] Surah Adz-Dzariyat ayat 56

[4] Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat ini Ialah: manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta sehingga ia menjadi bakhil.

 

[5] Maksudnya ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.

[6] Yang dimaksud dengan tidak memuliakan anak yatim ialah tidak memberikan hak-haknya dan tidak berbuat baik kepadanya.

 

[7] Ibnu Qudamah al-Maqdisi: Mukhtashar Minhajul Qashidin

[8] Syeh Ahmad Rifa’I, Riayah Akhir, Bab Ilmu Tasawuf, Korasan 21, Halaman 11, baris 1

[9] Ibid———————————————————–, Korasan 21, halaman 11, baris 9

[10] Surah Al-Munafiquun ayat 9

Tags
Share

About Author

admin

admin

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

Related Articles

Hubungi Kami:

Admin1:
Admin2:
Admin3:
Admin4:
Admin5:
Admin6:

Home Office :
Jl.Napak Tilas No.2 Cepokomulyo Gemuh
Kendal Jawa Tengah 51356
Email: admin@tanbihun.com
Phone: +62 85781738844

Who's Online

62 visitors online now
Anda mungkin juga menyukaiclose

Switch to our mobile site