Karena Diampuni, Ia Bertobat

tobatOleh KH A Hasyim Muzadi

Syahdan, seseorang mendatangi majelis pengajian Rabi’ah Al-Adawiyah. Kepada salah seorang wanita sufi terbesar dalam Islam itu, ia membuat testimoni seputar kehidupannya. Ia akui betapa sudah terlalu jauh meninggalkan Allah SWT dan sudah tak terhitung lagi dosa yang dia perbuat, baik dosa-dosa kabaair (dosa-dosa besar) maupun dosa soghooir (dosa-dosa kecil). Maka, dia mencoba mengukur ragam-ragam kesalahannya.

Di ujung kelelahan pengembaraannya itu, ia merasakan bukannya kesadaran positif yang muncul, melainkan malah merasa semakin jauh dari ketidaktaatan kepada Allah SWT. Lalu, dia bertanya, apakah kalau pada akhirnya ia bertobat Allah SWT akan mengampuninya. ”Tidak!” jawab Rabi’ah. Ia tercekat. Serasa palu godam menerjang dadanya. ”Tetapi, apabila Dia mengampunimu, engkau akan bertobat,” ujar Rabi’ah.

Jawaban Rabi’ah ini sungguh membuat nurani siapa saja akan bergetar. Jawaban itu merombak seluruh sendi kesadaran kita tentang pertobatan dan pengampunan. Selama ini, kita selalu menutup pintu bagi pemaknaan tunggal atas pertobatan dan pengampunan. Biasanya, kita beranggapan bahwa kalau kita bertobat atas dosa-dosa, lalu Allah SWT akan serta-merta mengampuni kita.

Padahal, menurut perspektif Rabi’ah, seseorang memerlukan kualifikasi tertentu untuk bisa melakukan pertobatan sehingga memperoleh pengampunan. Dalam pandangan Rabi’ah, pertobatan datang setelah turunnya pengampunan dan bukan sebaliknya. Jadi, kalau Allah SWT telah mengampuni kita, demikian konstatasi Rabi’ah, kita akan dianugerahkan kesempatan untuk menyampaikan pengakuan akan dosa dalam bentuk pertobatan.

Maknanya pula, pertobatan yang tulus baru akan muncul setelah kita mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Karena itu pulalah, dunia eskatologi Islam nyaris pada satu kata tentang maqam tobat. Tobat berada pada maqam paling awal bagi mereka yang ingin pulang kembali kepada Tuhannya. Kalau maqam ini didapat, seseorang bertobat bukan lagi atas dosa yang dilakukan, melainkan atas kelalaian dan kealpaan yang membuat pengabdiannya kepada Allah SWT terganggu.

InnalLaaha yuhibbut tawwaabinna wa yuhibul mutathohhirin. ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS al-Baqarah [2]:222].

At-Taa-ib minadz dzanbi kaman la dzanba lahuu. ”Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.” (HR Ibnu Hibban). Begitulah seharusnya kita menikmati pertobatan sebagai sebuah jalan pulang terbaik bagi kita kepada Allah SWT./republikaonline

2 Comments on Karena Diampuni, Ia Bertobat

  1. Taubat adalah pokok pangkal segala kebaikan.

  2. Pada mulanya seorang calon sufi harus taubat dari dosa-dosa besar yang di lakukannya,kalau ia berhasil dalam hal ini,ia akan taubat dari dosa-dosa kecil,kemudian dari perbuatan makruh dan lain sebagainya.
    Taubat yang di maksud adalah taubatan nasuha yaitu taubat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak akan berbuat dosa lagi walaupun sekecil apapun.
    Sufi identik dengan Zuhudnya artinya menjauhkan diri dari Dunia materi dan Dunia ramai.
    Konon orang Sufi selalu mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadah,Sholat,Dzikir,membaca Al-quran,Puasa karena dengan berpuasa bisa membuat hawa nafsunya lemah dan membuat ia tahan lapar dan dahaga.
    Ia makan dan minum hanya sekedar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.Ia sedikit tidur dan banyak beribadah pakaiannya pun sederhana.

    Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cintanya adalah seorang wanita bernama ROBIAH AL-ADAWIAH(713-801 M)di basrah.Cintanya yang dalam kepada Allah Swt memalingkannya dari segala yang lain dari Allah Swt.Bahkan dalam doanya ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak di masukkan ke surga,yang ia minta hanyalah bisa dekat kepada Allah Swt.Ia pun berkata Aku mengabdi kepada Allah Swt bukan karena takut kepada neraka,bukan pula karena ingin masuk surga,tapi Aku mengabdi karena cintaku kepadaNya.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*