Konsep Syukur dalam Kajian Tasawuf

Hosting Unlimited Indonesia


Tanbihun.com – Sifat syukur dalam kehidupan seseorang sangatlah penting karena hidup dengan mengedepankan sifat syukur, akan melahirkan kekuatan yang luar biasa dalam hidupnya, dan dapat membentuk sumber daya manusia yang arif lagi bijaksana serta menjadi syifa ul-linnas(sebagai penawar bagi manusia), yang kekuatan itu tidak mesti dimiliki oleh benda-benda lain, seperti makan-makanan, dan minuman apapun yang kita konsumsi. Sifat syukur hanya lahir dari hati nurani dan kesadaran seseorang yang sudah terbentuk sejak dini dan biasa merealisasikan dalam tradisi yang baik kapan dan dimana pun berada. Sifat syukur dapat memotivasi seseorang dalam memperoleh keberhasilan baik di dunia maupun di akhirat, Mengapa? Sebab dengan mengedepankan sifat syukur, seseorang akan punya sportivitas, profesionalitas yang proporsional dan pada akhirnya akan melahirkan sifat solidaritas/kesetiakawanan amal shalih dan akhlak yang mulia.       Secara bahasa syukur adalah gembira (suka cita), adapun secara istilah maksudnya adalah mengetahui segala kenikmatan itu datangnya dari Allah SWT, baik berupa nikmat iman, taat akan ajaran-Nya, dengan selalu memuji ke atas Dzat sang Pemberi semua keperluan hidup, dengan wujud berbakti kepada-Nya yaitu melakukan kewajiban dan meninggalkan segala perbuatan maksiyat, secara zahir ataupun bathin.[2]

Dalam surah Fathir ayat 3 Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْ كُرُوْا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ يَرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُوْنَ

Artinya:

Hai Manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain dia; Maka Mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?

Tiga dimensi Syukur

Syukur bisa dikatakan sempurna apabila telah memenuhi 3 kriteria[3],yaitu:

1.     Mengetahui semua nikmat yang Allah berikan, seperti nikmat Iman, Islam dan ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya sehingga benar-benar menjadikan Allah sebagai pelindung dan senantiasa hadir dalam hatinya, dengan meyakini bahwa kesuksesan dan segala bentuk kemewahan semua berasal dari Allah, kita hanya di beri pinjaman sementara di dunia.

2.     Mengungkapkan rasa syukurnya dalam bentuk puji-pujian seperti alhamdulillah, asy-Syukrulillah atau ucapan lainnya yang mempunyai arti yang sama.

3.     Nikmat Allah yang ada, bukan untuk dirasakan sendiri melainkan untuk berbagi dengan orang lain, seperti sedekah, infaq dan menolong fakir  miskin, itu semua kita lakukan supaya kita selamat dari ujian dan amanah yang kita hadapi di dunia sehingga kelak harta, tahta dan kekayaan kita menjadi penolong besok pada hari penghitungan amal di yaum mahsyar nanti.

Ada sebuah dialog menarik antara laki-laki dengan Abu Hazm:

Apa syukurnya kedua mata?

“Apabila engkau melihat sesuatu yang baik, engkau akan menceritakannya.  Tetapi apabila engkau melihat keburukan, engkau menutupinya”.

Bagaimana syukurnya telinga?

“Jika engkau mendengar sesuatu yang baik, peliharalah. Manakala engkau mendengar sesuatu yang buruk, cegahlah”.

Bagaimana syukurnya tangan?

“Jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu, dan janganlah engkau menolak hak Allah yang ada pada kedua tanganmu”.

Bagaimana syukurnya perut?

“Bawahnya berisi makanan, sedang atasnya penuh dengan ilmu”.

Syukurnya kemaluan?

“Abu Hazm kemudian membacakan Al-Quran surah Al-Mukminun ayat 1-7”.

Bagaimana syukurnya kaki?

“Jika engkau mengetahui seorang shalih yang mati dan engkau bercita-cita dan berharap seperti dia, dimana dia melangkahkan kakinya untuk taat dan beramal shalih semata, maka Contohlah dia. Dan apabila engkau melihat seorang mati yang engkau membencinya, maka bencilah amalnya. Maka engkau menjadi orang yangbersyukur.”
Abu Hazm menutup jawabannya, “Orang yang bersyukur dengan lisannya saja tanpa dibuktikan dengan amal perbuatan dan sikap, maka ia ibarat seorang punya pakaian, lalu ia pegang ujungnya saja, tidak ia pakai. Maka sia-sialah pakaian tersebut.”

Keutamaan bersyukur:

1.     Allah akan ingat kepada orang yang senantiasa bersyukur.

2.     Akan terhidar dari sifat-sifat ingkar kepada Allah SWT.

Syukur adalah keterbukaan hati, lahir dari kegembiraan, karena melihat kemurahan, kebaikan, kasih sayang, karunia dan semua nikmat-Nya. Shalat merupakan perwujudan syukur, sebagaimana yang terdapat dalam hadist shahih bahwa Rasul SAW melakukan shalat malam sampai kakinya yang diberkahi itu bengkak, itu semua beliau lakukan sebagai wujud tanda syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Dalam riwayat lain disebutkan satu contoh bentuk syukur yang di lakukan oleh Nabi Idris AS, bahwa suatu ketika malaikat mendatangi Nabi Idris, kemudian menyampaikan kabar bahwa Allah SWT telah ridha kepadanya. Kemudian Nabi Idris menangis mendengar berita itu, dan beliau meminta kepada Allah supaya membiarkannya tetap hidup, kemudian ditanya alasannya,

beliau menjawab: “Sebelumnya aku beramal untuk diriku sendiri, kini aku ingin tetap hidup, supaya aku bisa beramal untuk-Nya sebagai rasa syukurku atas keridhaan-Nya padaku”. Kemudian malaikat pun membentangkan sayapnya dan berkata: ‘Duduklah! Idris AS pun duduk diatas sayap malaikat, lalu malaikat membawanya naik ke langit.” Dari kedua riwayat shahih itu, tercermin bahwa syukur sebagai perwujudan amaliyah apabila Allah telah meridhainya.
Dilihat dari sudut lain, lawan syukur adalah kufur. Orang yang kufur terhadap nikmat-nikmat Allah menjadikan murka-Nya. Demikian pula bila dilihat dari quantitas, bahwa sesuatu yang jumlahnya sedikit akan jauh lebih baik dari yang jumlahnya banyak. Dari seluruh manusia, jumlah orang yang beriman tentu lebih sedikit, yang berpangkat wali lebih sedikit dari yang mukmin, dan jumlah para nabi lebih sedikit dari para wali, lalu jumlah rasul lebih sedikit dari jumlah nabi. Begitu pula bahwa orang yang bersyukur itu sangat sedikit jumlahnya, oleh sebab itu baginya kedudukan yang teramat mulia disisi Tuhannya, sebagaimana firman-Nya :

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ

Artinya:

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Dalam surah Al-Mukminun ayat 78 Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِىْ أَنْشَأَ خَلَقَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَ بْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ الْقُلُوْبَ قَلِيْلاً مَّا تَشْكُرُوْنَ

Artinya:

“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur”.[4]

Berbicara tentang syukur, Allah memberikan satu jaminan kepada kita sebagaimana dalam firmannya surah Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِىْ لَشَدِيْدٌ

Artinya:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Ayat tersebut memberikan satu mesej yang cukup jelas, yakni apabila kita bersyukur dengan pemberian Allah pastinya Allah akan menambahkan lagi kenikmatan kepada kita, lalu berbahagialah hidup kita.

Namun, seandainya kita mengkufuri nikmat Allah yakni dengan cara tidak mensyukurinya atau menyalahgunakannya, maka kita akan mendapat pembalasan yang berat dan pedih daripada Allah. Mungkin sahaja pada hari ini kita melihat ramai orang yang mengucapkan lafaz syukur tetapi kehidupannya masih juga tidak bahagia, rezeki datang dan pergi. Ada juga orang yang mengucapkan lafaz syukur, hidup mewah dengan harta, tetapi masih tidak berakhlak dengan perilaku dan sifat sebenar seorang Muslim. Akhirnya, ia juga akan mendapat balasan daripada Allah.

Atas sebab itu, konsep syukur yang sebenarnya harus kita fahami dengan jelas. Imam Ghazali, seperti dalam karya tulisnya Ihya’ Ulum al-Diin menyatakan bahawa syukur itu harus ada tiga elemen. Elemen pertama adalah ilmu, elemen kedua adalah perasaan dan elemen ketiga adalah amal.

Untuk seseorang itu benar-benar bersyukur, perkara pertama yang perlu ada adalah ilmu. Ilmu yang perlu ada itu terbagi kepada tiga bagian. Pertama, seseorang itu perlu ada ilmu tentang nikmat itu sendiri. Hakikat tentang nikmat itu perlu diketahui. Ilmu tentang nikmat ini akan membolehkan seseorang untuk memahami nilai nikmat tersebut dan seterusnya menghargai nikmat itu.

Kedua, seseorang itu perlu ada ilmu tentang siapa yang memberi nikmat. Dalam soal ini, pastinya Yang Maha Memberi Rezeki, Yang Maha Pemurah, adalah Allah SWT. Seseorang itu perlu mempunyai ilmu Tauhid yang kukuh. Dengan mengenali Allah, seseorang itu akan memahami bahawa setiap sesuatu itu datangnya daripada Allah, dan adalah merupakan hak milik Allah semata-mata. Setiap satu kejadian itu adalah datangnya daripada Allah. Justru  setiap nikmat dan rezeki itu datangnya daripada Allah, walaupun mungkin saja nikmat itu disampaikan melalui perantaraan makhluk-Nya.

Ketiga, seseorang itu perlu ada ilmu tentang siapa yang mendapat nikmat tersebut. Dalam konteks ini, yang menerima nikmat adalah diri kita sendiri sebagai hamba Allah. Memahami hakikat bahawa kita ini adalah hamba dan makhluk Allah, kita pasti akan merasa hina dan sangat rendah di hadapan Allah.

Elemen yang kedua untuk bersyukur pula adalah perasaan. Apabila menerima sesuatu nikmat itu, seseorang itu haruslah mempunyai perasaan gembira, bahagia. Bagaimana mungkin seseorang itu hendak bersyukur seandainya ia tidak mengalami apa-apa rasa apabila menerima sesuatu nikmat itu? Perlu difahami juga bahwa perasaan bahagia dan gembira ini bukan berpusat kepada kesenangan atas nikmat yang kita peroleh, tetapi lebih kepada perasaan bahagia dan gembira kerana mendapat satu nikmat daripada Tuhan Yang Maha Agung! Perasaan ini hanya mungkin timbul apabila ilmu tentang tiga perkara yang disebutkan tadi telah dimiliki.

Yang terakhir, elemen ketiga dalam bersyukur pula adalah amal, yakni perbuatan. Setelah seseorang itu mempunyai ilmu dan kefahaman tentang perkara yang disebutkan tadi, seterusnya mengalami perasaan bahagia, gembira dan berterima kasih, syukur tersebut perlulah dimanifestasikan melalui perbuatan. Dalam hal ini, seseorang  perlu menggunakan nikmat yang telah diperolehnya untuk mendekatkan dirinya dengan Allah, yakni zat yang telah memberikan nikmat tersebut.

Bagi memahami adunan elemen-elemen dalam syukur ini, Imam Ghazali telah turut memberikan satu analogi. Bagaimanapun, analogi yang diceritakan seterusnya ini telah digubah agar sesuai dengan pemahaman masyarakat masa kini.

Analogi rasa syukur itu begini; bayangkan kita sebagai rakyat Malaysia, tiba-tiba mendapat hadiah sebuah kereta BMW daripada Perdana Menteri Malaysia. Sekarang perhatikan, seseorang yang mendapat hadiah tersebut pastinya tidak akan dapat berterima kasih dan bersyukur kepada Perdana Menteri itu seandainya ia tidak mengetahui nilai BMW. Seandainya seseorang itu tidak mengetahui bahawa BMW itu adalah sebuah kereta yang mahal dan ternama, pastinya ia tidak akan menganggap pemberian itu sebagai sesuatu yang sangat istimewa. Kemudian, pastinya seseorang itu juga tidak akan dapat berterima kasih dengan sahabatnya seandainya ia tidak mengenali bahwa yang memberikan kereta itu adalah Perdana Menteri Malaysia. Ia juga mungkin tidak mampu untuk berterima kasih seandainya ia tidak mengenali dan menyedari bahawa dirinya cuma seorang rakyat biasa yang berdepan dengan pemimpin nomor satu negara. Namun, apabila ia menyedari ketiga-tiga perkara tersebut, maka pastinya ia akan mempunyai perasaan yang sangat-sangat gembira. Ia pasti akan memuji-muji Perdana Menteri itu. Seterusnya, ia pasti akan menggunakan kereta yang telah diberikan itu dengan sebaiknya untuk terus mendekati Perdana Menteri, mengucapkan terima kasih kepadanya dan memuji-mujinya. Ia pasti tidak akan menggunakan kereta itu untuk perkara yang dilarang oleh Perdana Menteri. Begitulah analogi rasa syukur yang sebenar.

Maka, tidak hairanlah pada hari ini jika ramai di antara kita yang hanya sekadar melafazkan syukur di bibir, tetapi tidak bersyukur dengan sebenar-benarnya. Firman Allah:

وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَشْكُرُوْنَ

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (Surah An-Naml, ayat 73)

Setiap nikmat, rezeki, kegembiraan, kebahagiaan dan kesenangan yang kita peroleh haruslah dihargai dan disyukuri dengan hakikat kesyukuran yang sebenarnya, supaya Allah akan semakin menambah segala kenikmatan yang telah kita rasakan.

Wallahu A’lam

Ibnu Dahlan El-Madary

Sholli ‘Alaa Muhammad Wa Aalihi

Taman Serdang Perdana, Sg. Besi

18/12/2010=12 Muharram 1432H-10.45AM


[1] Disampaikan dalam ceramah rutin di Surau al-Kautsar, Taman Telok Gedung Indah, Port Klang, 18  Desember 2010/ 12 Muharram 1432H

[2] Syeh Ahmad Rifai, Riayah Akhir, Bab Ilmu Tasawuf, Korasan 20, halaman 11,baris 2.

[3] Ibid,______________________________________  ,  Korasan 20,halaman 15, baris 8.

[4] Yang dimaksud dengan bersyukur dalam ayat ini ialah menggunakan alat-alat tersebut untuk memperhatikan bukti-bukti kebesaran dan ke-Esa-an Tuhan, yang dapat membawa mereka beriman kepada Allah s.w.t. serta taat dan patuh kepada-Nya. kaum musyrikin memang tidak berbuat demikian.

3 Comments on Konsep Syukur dalam Kajian Tasawuf

  1. enak dibaca dan mengobati hati…sungguh

  2. ibn khasbullah // 13 January 2011 at 5:32 am // Reply

    Syukron Jaziilan Ya Akh, alhamdulillah.

1 Trackbacks & Pingbacks

  1. Jom Bersyukur- Alhamdulillah!! | jagabadan.net

Leave a comment

Your email address will not be published.

*