2:03 am - Tuesday July 22, 2014

Pentingkah Bertarekat?

Saturday, 30 May 2009 16:50 | Tasawuf | 0 Comment | Read 1199 Times

kangjeng-syaikhOleh, Mufid

(Ustadz Madrasah Diniyah Rifaiyah Menjangan Pekalongan dan Aktifis Thariqat Al-Dusuqiyah Al-Muhammadiyah)

Desawa ini perkembangan tarekat-tarekat sufi di negara-negara dunia mengalami kemajuan yang cukup signifikan, meski disisi lain acap kali praktek-praktek tarekat sufi sering mendapat kritikan pedas bahkan asumsi miring oleh sebagian umat muslim. Tudingan-tudingan miring seperti bidah, sesat dan semacamnya ini disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang prakek-praktek tarekat sufi. Karena mereka mendapatkan informasi dari hanya membaca tulisan-tulisan pemikir atau membaca buku-buku saja tanpa terjun langsung dalam praktek tarekat. Sudahlah penulis tidak ingin membahas itu.

Kami hanya ingin memberi sedikit informasi tentang tarekat kepada saudara-saudara muslim supaya dapat menyaring informasi secara adil dan bijak karena penulis sendiri adalah aktifis salah satu tarekat Ad Dusuqiyah Al-Muhammadiyah -tarekat yang mu’tabar di majlis sufi di Mesir, negara asal perkembangan tarekat itu- dan sekarang di Indonesia telah mengantongi restu dari Maulana Al-Habib Lutfi bin Hasyim bin Yahya selaku Rais Amm Jamiyah Ahli Al Thariqah Al-Muktabarah Al- Nahdliyyah (JATMANU).

Merupakan sebuah fenomena apabila penganut praktek tarekat sufi mulai banyak tersebar, bukan hanya di negara-negara Arab atau Asia saja, dengan populasi penduduknya muslim terbanyak, tapi melainkan telah tersebar di sebagian daratan Eropa dan Amerika yang dikatakan sebagai negara minoritas populasi Muslim. Dan latar belakang para salikin itu tidak hanya para ulama dan ilmuwan saja, melainkan dari berbagai profesi yang berbeda-beda. Bahkan para salikin dari kalangan anak muda pun sudah mulai menjadi fenomena yang tidak asing di negara-negara muslim, seperti Mesir, Sudan, Malaysia, dan Indonesia.

Lalu muncul pertanyaan dibenak penulis. Pentingkah umat Islam bertarekat? lalu bagaimana menanggapi idiom-idiom yang telah berlaku di masyarakat kita, seperti ungkapan: “jangan masuk tarekat sebelum anda memasuki usia 45 tahun”; “jangan masuk tarekat sebelum ilmu fiqih anda mapan”; “jangan masuk tarekat sebelum penerapan ibadah syariat anda sempurna”; “jangan masuk tarekat kalau perbuatan anda masih kotor”.

Dari rumor yang berkembang di masyarakat itu, muncul pertanyaan di benak penulis apakah memang seseram itu jalan masuk ke tarekat? Sehingga  muncul kesan minor yang kurang sedap di masyarakat. Lalu bagaimana jika usia anda belum sampai 40 tahun kemudian meninggal dunia? Bagaimana kriteria seorang muslim bisa dikatakan fiqihnya sudah mapan? Apakah dia sudah menamatkan kitab-kitab fiqih yang besar dan berjilid-jilid seperti al-Umm karya al-Imam Asy-Syafii RA? Padahal orang yang telah menghatam Al-Umm, mengatakan bahwa ia masih merasa kurang, masih belum membaca kitab-kitab madzahibul arbaah. Lalu bagaimana kriteria seseorang diakatan ibadahnya sudah sempurna? Apakah yang sudah berhaji, banyak berzakat, banyak shalat? Ternyata ukuran kemapanan semua kesempurnaan itu masih sangat relative.

Lalu bagaimana? Marilah kita mengenal lebih jauh apa makna tarekat itu. Tarekat menurut Syaikh Mukhtar Ali Al Dasuqi Syaikh Thariqat Al-Dasuqiyah Al-Muhammadiyah adalah

أَلطَّرِيْقَةُ : هِيَ اَلدَّعْوَةُ ِالَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِاِحْيَاءِ السُنَّةِ وَنَبْدِ الْبِدْعَةِ (اَلْسَيْئَةِ) وَالْقَضَاءِ عَلَيْهَا بِا الْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَلَهَا شَيْخٌ سَيْفُهُ وَدِرْعُهُ كِتَابُ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَطَعَةُ الْمُرِيْدِ لِلْشَيْخِ كَطَاعَةِ الْمَاءْمُوْمِ لِلْاِمَامِ فِىْ الصَّلَاةِ لَا يَخْرُجُ عَنْ كَوْنِهَا طَاعَةُ للهِ

“Tarekat adalah mengajak kepada Allah dan Rasulnya untuk menghidupkan As-Sunah dan memangkas bid’ah sayyiah sekaligus membumihanguskannya, dengan jalan hikmah dan mauidloh hasanah. Tarekat memiliki Syaikh (guru), pedang dan tamengnya adalah kitabullah dan As-Sunah Rasul Allah. Taatnya murid kepada Syaikh laksana taat (patuhnya) makmum pada imam di dalam shalat. Tidak keluar dari koridor ketaatan kepada Allah.”

Kata thariqoh sendiri pernah disebut Allah melalui firmannya dalam al-Qur’an Surat Al-Jin ayat 16:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء غَدَقاً

Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan Lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).

Menilik definisi yang dikemukakan di atas, berarti dengan masuk tarekat, para salikin akan dituntut oleh mursyidnya untuk beribadah kepada Allah dengan benar. Baik secara syariat, tarekat, dan hakekat. Karena tidak ada satupun Syeikh Thariqat yang menyuruh kepada muridnya untuk meninggalkan syariat dan mengamalkan hakekat saja. Kalaupun ada, maka golongan ini dinamakan dengan Mutashowsif atau pseudo sufi (sufi gadungan) karena ulama-ulama tasawuf sering mendengungkan ungkapan:

من تفقه بلا تحقيق فقد فسق ومن تحقق بلا تفقه فقد زندق

“Barang siapa berfikih tidak berhakekat maka fasiq dan barangsiapa berhakekat tanpa berfikih, maka zindiq. Pseudosufi adalah orang yang sudah masuk kedalam dua syair diatas dan acapkali tuduhan miring tentang praktek-praktek sufi dan kepada orang-orang sufi muncul dari sini.”

Di dalam Thariqat ada Syeikh Mursyid (guru) zikir dan salikin (penganut thariqat). Jika guru diibaratkan dokter, zikir adalah obat, maka salikin adalah pasien-pasien yang sakit yang ingin disembuhkan penyakit-penyakit hati dan batinnya. Maka justru orang-orang yang merasa punya banyak penyakit di hati dan batinnyalah yang seharusnya paling berhak masuk thariqat, karena ingin disembuhkan dari penyakit.

Dengan mengikuti bimbingan guru, diharapkan para salikin bisa menjadi muslim yang progresif, lebih peka terhadap masalah-masalah umat. Disamping itu juga pengaplikasian ibadah-ibadah syariat seperti shalat, puasa, zakat, haji lebih dimotivasi untuk lebih giat dan benar dibawah bimbingan sang guru atau mursyid. Mursyid bukanlah sembarang guru. Ia ialah orang-orang yang memiliki dua cirri lahir yaitu rahmatan dari Allah dan ilmu laduni.

Seperti disebutkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 65 menerangkan:

فَوَجَدَا عَبْداً مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْماً

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.

Dan dua ciri batin yaitu izin dari Allah dan Ainul Basiroh

“dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi”.

Dari sini bisa kita tarik kesimpulan bahwa tarekat sangatlah perlu sebagai sarana bagi seseorang yang berusaha untuk ingin lebih memantapkan dan menggiatkan di dalam ibadah syariatnya supaya benar, baik secara lahiriah (memenuhi syarat dan rukun-rukunnya) dan juga batiniah (tarekatnya beribadah untuk mencari ridla Allah, hakekatnya hanya Allah lah semata yang menggerakkan kita), sehingga terjadi singkronisasi antara keduanya: lahir dan batin.

Jadi tidaklah benar tuduhan-tuduhan miring dari sebagian orang yang mengatakan bahwa praktek-praktek sufi tarekat itu adalah sesat, bidah dan kehidupan bersufi hanya membawa kemunduran agama dan kehidupan berbangsa.

Tuduhan tersebut tegas ditolak oleh Prof. Dr. Asyumardi Azra dalam bukunya Jaringan ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII & XVIII, yang menyatakan bahwa justru tokoh-tokoh sufilah yang menuntun umat menjadi lebih progresif di dalam berbagai hal kebaikan dan agresif dalam menolak segala kemungkaran dengan cara-cara yang lebih rahmat.

Sebagai contoh, Thariqat Al-Sanusiyah di Al-Jazair dan Tunisia, melalui guru Mursyid yang meresolusikan untuk berjihad, akhirnya mereka mampu mengusir kolonial penjajah Prancis di negaranya. Kita bisa melihat seorang mursyid bisa dengan harisma bisa menggerakkan semangat perlawanan rakyat, karena dalam praktek tarekat seorang murid di tangan gurunya laksana mayit yang hendak dibersihkan dan di kafankan (sami’na waathona).

Demikian juga kita bisa melihat sejarah Syeikh Arsyad al-Banjari, ulama terkemuka Indonesia abad 18 yang terjun langsung bersama Sultan Agung Tirtayasa Banten dalam memimpin peperangan melawan kolonial Belanda, sehingga ia ditangkap dan harus diasingkan ke Ceylon Srilangka. Kemudian, karena masih dianggap berbahaya beliau diasingkan ke Kapeton (Tanjung Harapan) Afrika Utara. Beliau adalah tokoh sufi terkemuka bukan hanya di Indonesia melainkan juga di dunia Islam, karena beliau adalah Syeikh Mursyid Thariqat Khalwatiyah yang mendapat gelar dari maha gurunya sebagai Tajul Khalwati (Mahkota Kholwati).

Demikian juga halnya Syeikh KH. Ahmad Rifai bin Muhammad Markhum Pahlawan Nasional sekaligus The Founding Father Jamiyah Rifaiyah, beliau adalah tokoh ulama kharismatik di Jawa abad 19 yang telah berhasil menanamkan kebenaran di hati murid-muridnya tentang keharusan ingkar terhadap pemerintah kolonial Belanda, sehingga ulama produktif ini (karena telah menulis lebih dari 62 judul kitab tentang Ushul, Fiqih, Tasawuf madzhab Syafii berbahasa Jawa dan Melayu) harus dipenjara kemudian diasingkan ke Batu Merah Ambon Maluku, terus dibuang sampai Kampung Jawa Tondano Minahasa bersama Kiai Modjo. Beliau adalah pengikut Thoriqoh Qodiriyah. Demikian juga Khadlaratussyaikh Hasyim Asyari, pahlawan nasional dan juga sebagai ulama harismatik pendiri NU ini adalah murid KH. Kholil Bangkalan Madura yang setia pada jalang Thariqat. Masih banyak lagi ulama tokoh sufi terkemuka di Indonesia yang ternyata beliau-beliau adalah penganut Thariqah atau bahkan Syaikh thariqat itu sendiri.

Demikian tulisan ini kami buat semoga dapat bermanfaat. akhirnya penulis mengakhiri tulisan ini dengan mengutip ayat

واتبع سبيلا من اناب الي

ومن يضلل فلن تجد له سبيلا

ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشد

Share on :
 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

adakah ayat Alqur-an menturuh untuk bertariqah,Ritus murid thoriqoh dusuqiyah

BACA JUGA!close