TANBIHUN ONLINE

Setiap Kita Berpotensi Menjadi Waliyullah

 Breaking News
  • Kisah Kang Santri (True Story Bag.2) TANBIHUN.COM- Setahun berselang aku pulang ke rumah. Kisahnya berawal ketika aku menelpon salah satu saudaraku di Jakarta, lalu saudaraku itu memberikan nomer telponku kepada ayahku Allohu yarhamuh. Girang luar biasa...
  • Tetaplah Semangat Dalam Segala Kondisi TANBIHUN.COM- Kenapa Aku selalu merasa sedih? Kamu tidak sedih, hanya kurang semangat.dan itu bisa mencair lagi seiring dengan pikiranmu yang lebih positif. Tapi Aku belum bisa mencapai hal yang aku...
  • Masihkah Kau Meratap Didinding facebook? TANBIHUN.COM- Mark Zuckerberg, seorang anak muda Yahudi ingin membawa tradisi Yahudi dengan Tembok Ratapan nya ke ranah dunia maya dengan menciptakan Facebook. Disana setiap orang bisa meratap dan mengungkapkan uneg-unegnya,...
  • Kisah Kang Santri (True Story. Bag. 1) TANBIHUN.COM- Jakarta terlalu bising dan memekakkan telinga untuk kelas orang kampong udik sepertiku. Aku yang biasa nyaman dengan suara cicit burung pipit dan sorak burung gagak, merasa pening dan mual...
  • The Power Of Love (The Story of Mamo Zain) TANBIHUN.COM- Mamo, pemuda malang sebagai pekerja di satu istana. Allah mengujinya dg mencintai putri istana, Zain. Cinta itu tumbuh bersemi di dalam hati kedua pemuda pemudi itu. Sudah bisa ditebak,...
December 01
09:32 2009

sunanbunangsunandrajatSebagai awalan, sering saya tadabbur setelah membaca kisah para salafusholih
“bagaimana caranya seorang hamba bisa  setaqwa itu pada Robb-Nya?”.
Menilik kembali pada Ushuliddin bahwa tingkatan waliyulloh terbagi menjadi tiga bagian
berupa waliyulloh awam, waliyulloh khowas dan waliyulloh khowasul khowas sebenarnya kita
tergolong  derajat yang mana? pertama,kedua, atau yang ketiga?. Bagaimana mungkin seorang hamba
mengharapkan naiknya kedudukan disisi Tuhan-Nya sementara ia sendiri tidak tahu ia berada ditingkat
derajat yang mana? Banyak dari kita yang haus akan pemahaman seperti ini, bahkan tak jarang saking
banyaknya pemahaman- pemahaman yang masuk menjadi sebuah kefatalan dalam pemikiran.

Seperti kata penyair “cengkurai tak kan tampak ketika bias keraguan dari kejahilan tiada aturan”, sama halnya
ketika kita asik bercumbu dengan dzikir dan doa kita memohon derajat yang setinggi-tingginya tapi
ketika cahaya doa itu mulai nampak lagi-lagi  ketidak tahuanlah yang menghilangkan, ‘ketidak tahuan’
inilah yang sulit dipelajari melalui teori. karena ‘ketidak tahuan’ disini hanya bisa dipelajari oleh
hati. Sebagaimana firman Alloh ” Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila
Rosul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (605). Ketahuilah bahwa sesungguhnya
Alloh membatasi antara manusia dan hatinya (606). Dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan
(Q.S 8:24).

Kita ingat kembali kisah Ibnu Hajar teori ilmiah mana yang bisa menjelaskan mengapa beliau
mendapat derajat semulia itu? sedang Imam Ghozali mendapat kemuliaan disisi Alloh melalui sebab
menyelamatkan seekor lalat yang jatuh ketinta saat beliau menulis. Kalau hanya beresepsi pada
titik poin kisah beliau tanpa memandang dari tiga unsur ilmu Ushuliddin, Fiqih, Tashawuf
kita hanya akan mendapat satu wacana “semua kan sudah Alloh yang ngatur” disinilah derajat
ke-khowasan di uji sebelum khowashul khowas didapat.

Sembari menyempurnakan ikhtiar, kita yang masih berkutat bahkan merasa bangga dengan keawaman, yang
lahir dari rasa ketidak mampuan untuk mencapai tingkatan khowas, sepatutnya kita tanya kembali
apakah seorang mukallaf yang sudah mempelajari Ushuliddin, Fiqih dan Tashawuf masih dikategorikan
pada tingkatan waliyulloh awam?

Oleh : Farid Imdad

Tags
Share

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

Latest Comments

ya ditunggu,semoga tidak lupa ..... hehehhe.... :) ...

menunggu sambungannya :) ...

Al-Faqir mohon halalnya MP3 manaqib dan doa yang sy unduh, terima kasih semoga bermanfaat JAZAKUMULLAH...