2:05 pm - Wednesday July 16, 0904

Setiap Kita Berpotensi Menjadi Waliyullah

Tuesday, 1 December 2009 9:32 | Tasawuf | 0 Comment | Read 977 Times

sunanbunangsunandrajatSebagai awalan, sering saya tadabbur setelah membaca kisah para salafusholih
“bagaimana caranya seorang hamba bisa  setaqwa itu pada Robb-Nya?”.
Menilik kembali pada Ushuliddin bahwa tingkatan waliyulloh terbagi menjadi tiga bagian
berupa waliyulloh awam, waliyulloh khowas dan waliyulloh khowasul khowas sebenarnya kita
tergolong  derajat yang mana? pertama,kedua, atau yang ketiga?. Bagaimana mungkin seorang hamba
mengharapkan naiknya kedudukan disisi Tuhan-Nya sementara ia sendiri tidak tahu ia berada ditingkat
derajat yang mana? Banyak dari kita yang haus akan pemahaman seperti ini, bahkan tak jarang saking
banyaknya pemahaman- pemahaman yang masuk menjadi sebuah kefatalan dalam pemikiran.

Seperti kata penyair “cengkurai tak kan tampak ketika bias keraguan dari kejahilan tiada aturan”, sama halnya
ketika kita asik bercumbu dengan dzikir dan doa kita memohon derajat yang setinggi-tingginya tapi
ketika cahaya doa itu mulai nampak lagi-lagi  ketidak tahuanlah yang menghilangkan, ‘ketidak tahuan’
inilah yang sulit dipelajari melalui teori. karena ‘ketidak tahuan’ disini hanya bisa dipelajari oleh
hati. Sebagaimana firman Alloh ” Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila
Rosul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (605). Ketahuilah bahwa sesungguhnya
Alloh membatasi antara manusia dan hatinya (606). Dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan
(Q.S 8:24).

Kita ingat kembali kisah Ibnu Hajar teori ilmiah mana yang bisa menjelaskan mengapa beliau
mendapat derajat semulia itu? sedang Imam Ghozali mendapat kemuliaan disisi Alloh melalui sebab
menyelamatkan seekor lalat yang jatuh ketinta saat beliau menulis. Kalau hanya beresepsi pada
titik poin kisah beliau tanpa memandang dari tiga unsur ilmu Ushuliddin, Fiqih, Tashawuf
kita hanya akan mendapat satu wacana “semua kan sudah Alloh yang ngatur” disinilah derajat
ke-khowasan di uji sebelum khowashul khowas didapat.

Sembari menyempurnakan ikhtiar, kita yang masih berkutat bahkan merasa bangga dengan keawaman, yang
lahir dari rasa ketidak mampuan untuk mencapai tingkatan khowas, sepatutnya kita tanya kembali
apakah seorang mukallaf yang sudah mempelajari Ushuliddin, Fiqih dan Tashawuf masih dikategorikan
pada tingkatan waliyulloh awam?

Oleh : Farid Imdad

Share on :
 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with:

Anda mungkin juga menyukaiclose