Syadziliyyah Vs Qodiriyyah Mengkaji Si Kaya Dan Si Miskin

Oleh: MA. Zuhurul Fuqohak

A. Pendahuluan

Ada dalil yang terkesan bertentangan dalam perumusan bab ini. Pertama, dalil yang lahirnya mengarahkan pada keutamaan si kaya. Di antaranya, satu, perlindungan Nabi saw dari fakir. Riwayat dari Aisyah, Abu Hurairoh, dan Abi Bakroh, serta sahabat lainnya. Dan hadis ini sahih. (Irwaul Gholil, 354, password ista’adza minal faqri). Dua, riwayat sahih Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi saw bersabda, “Wahai ibnu Adam, sesungguhnya kalian menafkahkan kelebihan (sedekah) harta, itu lebih baik. Dan menahannya itu buruk”. Lahirnya hadis ini memuji orang kaya yang pandai bersedekah. Tiga, riwayat sahihain menyebutkan bahwa Nabi saw bersabda, “Orang-orang yang memiliki harta pergi dengan meraih derajat tinggi dan kenikmatan abadi”. Ini juga memuji si kaya dermawan. Empat, hadis yang menceritakan pengaduan orang-orang Ansor yang fakir tentang amalan-amalan mereka sama dengan orang-orang kaya. Lalu baginda Nabi saw menyuruh mereka mewiridkan kalimat yang utama. Kemudian si kaya itu pun mengikutinya, dan si fakir kembali lapor kepada Nabi. Lalu beliau menjawab, “Itu adalah keutamaan yang Allah berikan pada orang yang dikehendaki-Nya”. (Sahihuttarghib wat tarhib, 118, password dzaalika fadhlullahi).

Sedang dalil yang lahirnya mengunggulkan si miskin juga banyak. Di antaranya, satu, hadis riwayat Ibnu Abbas, Nabi saw bersabda, “Aku melihat surga, kebanyakan penduduknya adalah orang-orang fakir”. (Sahih, Silsilah sahihah, 87). Dua, hadis riwayat Abu Hurairoh, “Orang-orang Islam yang fakir, masuk surga sebelum si kaya, selisih separo hari yaitu lima ratus tahun” (Sahih, sahihuttarghib wat tarhib, 132, password yadhulu fuqoroul muslimin). Dalam riwayat lemah menggunakan redaksi, “selisih empat puluh kharif (masa)”.

B. Pandangan Sufistik Tentang Si Kaya Bersyukur Dan Si Miskin Penyabar

Miskin dan kaya adalah dua materi ujian Allah. Jika si miskin bisa bersabar, dia disebut lulus tes. Dan jika si kaya pandai bersyukur, dia dinamakan sukses. Ulama masih berselisih pendapat, mana yang baik miskin yang sabar atau kaya yang pandai bersyukur (Al-Hawy, 296, password faminhum man fadhdholal faqir). Al-Ghozaly mendefinisikan kaya penyukur dengan orang yang memiliki harta namun jiwanya seperti si miskin. Dia hanya menggunakan hartanya sekedar kebutuhan primer dan pokoknya saja. Selebihnya dia alokasikan untuk kebaikan, membantu, dan menanamkan amalan akhirat, atau menahannya sebagai penjaga yang akan menasarufkan kepada orang yang membutuhkan. (Bughyatul Mustarsyidin, 222, password al-ghoniyyu asy syakir).

Bagi ulama yang mengeluarkan statemen bahwa lebih utama yang miskin dan bersabar, maka mereka mengimplementasikannya dengan teori zuhud dan riyadhoh yang terkesan memaksakan diri untuk melatih hawa nafsu. Inilah tarekat para Nabi yang diuji Allah dengan kesabaran. Seperti dongeng Nabi Ayub yang diuji dengan penuh ketabahannya. Cerita para wali-wali Allah yang mengurung diri, hidup miskin, menyendiri, dan latihan-latihan kejiwaan lainnya. Ulama terdepan dalam hal ini yang menjadi imamnya adalah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani (w. 561 H. Umur beliau 91 tahun). Dan kemudian terbentuk setelahnya tarekat Qodiriyyah. Beliau berkata, “Orang fakir yang bersabar itu lebih baik ketimbang orang kaya yang bersyukur. Dan orang miskin yang bersyukur itu lebih baik ketimbang keduanya. Bahkan orang fakir yang sabar dan syukur itu lebih baik ketimbang semuanya”. Bagi ulama seperti ini, mereka memandang dunia tidaklah seindah gemerlap dan kehidupan glamornya. Kenyataan akhirat terpatri dalam benak mereka. Seakan bayangan surga, neraka, malaikat, bidadari selalu mengawasi di sekelilingnya. Sehingga sangat mudah bagi mereka untuk menjalankan amalan surga dan hal-hal yang mendekatkannya.

Al-Junaid sebagaimana yang dikatakan pemilik kitab al-Wahid, berpendapat bahwa, orang fakir yang pandai bersabar itu lebih baik. Sebab, menurutnya orang yang membuat dirinya sakit, kelelahan, dan penuh beban, itu nilai bimbingan untuk mendapatkan pengarahan jiwa dan ketajaman hati itu sangat berbeda dari pada orang yang enak-enak, santai, suka-suka, dan bergelimangan dalam kemewahan. Karena kehidupan mewah seperti itu biasanya akan membuat hati keras, berat, dan sulit cair atau lunak. Sehingga kejerihpayahan itu sangat dibutuhkan sebagai ujian hati dan pengendali diri agar jiwa benar-benar bersih. (al-hawi, ibid).

Sedang ulama yang mengunggulkan teori si kaya yang bersyukur itu lebih baik, ini diimami oleh Abul Hasan asy-Syadzily yang selanjutnya terbentuk tarekat Syadziliyyah setelahnya. Murid-murid beliau, seperti Abul Abbas al-Marsi yang mengeluarkan murid bernama Ibnu Athoillah as-Sakandari (sebagaimana dawuh KH. Maemoen Zubair, Sarang Rembang dalam pengajian rutinkan syarah hikam ± 2006), juga berpendapat sama. Menurut Ibnu Athoillah, kaya adalah sifat Tuhan. Sedangkan fakir adalah sifat hamba. Sifat yang bernisbah pada Allah itu lebih utama tentunya ketimbang sifat yang bersandar dengan hamba. Analoginya seperti perbandingan ilmu dan amal. Mana yang lebih utama? Al-Ghozaly dalam ihya’nya menegaskan bahwa ilmulah yang paling utama. Beliau menuturkan beberapa argumentasi yang sulit terbantahkan. Di antaranya ilmu adalah bernisbah pada Allah. Sedang amal hanya berkaitan dengan hamba-Nya (ihya’, 12, password wa’alal ithlaqi min ghoiril idhofah). Begitu juga dengan kaya dan miskin. Maka, yang utama adalah kaya yang pandai bersyukur. Namun, argumentasi ini dibantah oleh al-Junaid bahwa kekayaan yang disandarkan pada Allah adalah kaya dzaty yang tidak ada masalah di dalamnya. Sedangkan kaya seorang hamba di sini adalah faktor adanya pencurian dan ghosob serta kriminal lainnya. Maka tidak bisa disamakan. (al-Hawi, ibid).

Di sisi lain, teori Ibnu Athoillah juga sangat kuat. Sebagaimana kaidah yang menyatakan bahwa ‘al-muta’addi afdholu minal qosir’ (kekayaan yang dapat dimanfaatkan orang lain itu lebih utama ketimbang kemiskinan yang hanya dirasakan perorangan). Hal ini sangat realistis, sebab hampir semua tindakan yang lebih bermaslahat kepada umat itu dinilai baik menurut agama. Perbandingannya tampak. Jika si miskin, kemaslahatan hanya untuk dirinya. Bagaimana tidak? Penyucian diri, riyadhoh, mujahadah, dan segudang argumentasi lain itu kembalinya pada satu orang pelaku saja. Andaikan ini terkebumi dalam setiap pikiran orang Islam, seakan Islam tidak bisa sebagai rahmatan lil ‘alamin, padahal baginda Nabi saw sudah menegaskan, ‘orang terbaik adalah yang paling bermanfaat kepada manusia lain’. (Hasan, al-Jami’ as-shoghir wa ziyadatuhu, 560).

Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengklasifikasikan tiga hal utama. Pertama, jika orang kaya itu lebih baik dalam hidupnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan dia bisa melaksanakan tugas si kaya meliputi sedekah, zakat, dan bersyukur, dan andai dia miskin maka hatinya akan berontak, tidak menerima, menyalahkan Dia, serta sifat tercela lainnya, maka kaya lebih baik ketimbang miskin untuknya. Sedang jika kehidupan miskin dapat mengatur jiwanya, berbuat lebih bijaksana, dan bersabar serta rela dengan kenyataan yang dihadapinya, dan andai dia kaya maka fenomena buruk akan menimpanya, maka fakir lebih baik ketimbang kaya untuknya. Adapun jika kaya dan miskin sama untuknya, mentalnya telah dapat menerima kenyataan, serta dengan kaya dia bersyukur dan dengan fakir dia rela, maka menurut beliau kayalah yang lebih utama. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang ada. Di antaranya Nabi saw berlindung diri dari hidup fakir dan miskin. (al-Hawi, ibid).

C. Konsep Zuhud Bagi Si Kaya Penyukur

D. Tanggapan Argumentasi Yang Terkesan Menguatkan Si Miskin

Pertama, hadis yang menyebutkan bahwa orang-orang fakir itu akan masuk surga lebih dahulu, maka ini dimungkinkan ada keutamaan yang tidak dimiliki pada mafdhul. Artinya, hal ini masuk pada kategori kaidah, ‘qod yuujadu fil mafdhuul maa laa yuujadu fil faadhil’. Kadang-kadang ditemukan hal pada yang diutamai sesuatu yang tidak ada pada yang utama (Bujairomi alal Khothib, 91). Analoginya seperti hadis yang menceritakan bahwa dua bayi yang lahir ke dunia ini dengan tanpa menjeritkan tangisan yaitu Isa dan ibunya, Maryam. Maka ini tidak bisa dijadikan argumentasi keutamaan Isa melebihi baginda Nabi saw. Sebab, boleh saja ditemukan hal pada yang diutamai sesuatu yang tidak ditemukan pada yang utama. (Difa’ anissunah, password qod yujadu fil mafdhul).

E. Pendekatan Sisi Antropologi, Edukasi, Sosial, Ekonomi, Dan Politik

Secara kehidupan sosial, kekayaan lebih diperhatikan dari pada kemiskinan. Bahkan jihad utama yang diplokamirkan para pembaharu Islam abad modern adalah berprinsip utama mengentas kemiskinan dan kebodohan. (zid).

Referensi ____________________________________________

Abdurrahman. t.t. Bughyatul Mustarsyidin. Maktabah: Syamilah.

As-Suyuthi, Jalaluddin. t.t. Al-Haawi. Maktabah: Syamilah.

Al-Barzanji. t.t. Manaqib Syekh Abdul Qodir. Al-Haromain: Surabaya.

Al-Albany, Nasiruddin. t.t. Silsilatul Hadis as-Sahihah. Maktabah: Syamilah.

————-, Irwaul Gholil. Maktabah: Syamilah.

————-, Al-Jami’us Saghir wa Ziyadatuhu. Maktabah: Syamilah.

Al-Ghozaly, Muhammad. t.t. Ihya’ Ulumiddin. Maktabah: Syamilah.

1 Comment on Syadziliyyah Vs Qodiriyyah Mengkaji Si Kaya Dan Si Miskin

  1. DUNIA DALAM DERITA

    Dalam hal ini nabi bersabda:

    “barangsiapa yang mengambil keduniawian yang halal,maka allah menghisabnya dan barangsiuapayang mengambil kaduniawian yang haram,maka allah akan menyiksanya.”(HR.Hakim)

    Nabi bersabda :

    Wahai sekalian Manusia,ketahui olehmu.bahwa dunia ini adalah tempat yang terjal,bukan tempat yang rata,dunia ini tempat susah,bukan untuk tempat bersenang- bersenang,maka barang siapa mengetahui keadaan duniayang sebenarnya,dia tidak akan bergembira dengan kesuburanya,dia tidak akan bersedih karena ditimpah musibah.Ingatlah,sesungguhnya Allah menciptakan dunia ini tempat ujian,sedangkan akherat/surga adalah negeri tempat orang-orang yang memiliki nasib yang baik,maka allah menjadikan bencana dunia sebagai pahala di akhirat dan Allah menjadikan pahala akhirat sebagian bencanadunia sebagai pengantinya(bila sabar),maka bila orang itu sabar,tentu dia diberi pahalanya,apabila dia tidak sabar akan musibah,dia akan disiksa.Oleh karena itu berhati-hatilah menikmati manisnya dunia karena sering putusnya kenikmatan dunia ini yang cepat karena akan memperoleh penyesalan dia akherat,dan jangan pula kamu selalu bergantung kepadanya sementara Allah menghendaki kamu untuk menjauhinya,sehingga jadilah kamu,orang-orang yang diberikan Allah,karena Allah membencinya,Sedangkan kamu termasuk orang-orang yang menerima seksan-Nya.”(HR.Ad Dailami).

    (dari kitab nashaihul ibad)

Leave a comment

Your email address will not be published.

*