Tanbihun.com – Ada satu kesatuan hubungan yang tidak mungkin bisa dipisahkan antara Syari’at, Thariqat dan Hakikat. Ketiganya itu di ibaratkan sebuah kelapa. Syari’at adalah kulitnya, Thariqat isinya dan Hakikat adalah minyaknya. Syaikh Ahmad Rifa’i mengisyaratkan bahwa sesungguhnya setiap muslim mukallaf itu wajib kembali kepada ketiganya sebagai keharusan yang wajib dalam beribadah kepada Allah. Syari’at adalah berisi KAIFIYAT dan tata cara beribadah kepada Allah, menyatakan rukun-rukun dengan syarat-syarat yang wajib bagi sahnya ibadah, juga mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan kemungkaran. Thariqat mengisyaratkan keikhlasan niat hati karena Allah. Dan Hakikat adalah gambaran bagaimana menghendaki dan mendapatkan rahmat, karunia dan pertolongan Allah.
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa ajaran-ajaran tasawuf Ahmad Rifa’i RA, yang diajarkan kepada individu-individu orang Islam adalah gambaran tasawuf amali, bukan tasawuf nadhari dan bukan pula tasawuf falsafi. Maka didalamnya tidak terdapat sejenis pandangan wahdatul wujud yang di ajarkan oleh Hamzah Fansuri yang pertama kali di Aceh pada abad ke 19 yang diikuti dengan ajaran “Manunggaling Kawulo Gusti” dalam istilah Jawa oleh Syekh Siti Jenar, dan barangkali yang di tolak Ahmad Rifa’i dari wahdatul wujud adalah cita-citanya yang tinggi untuk merubah pikiran kebanyakan orang islam (Jawa) pada waktu itu., karena banyak orang Jawa saat itu yang telah ter- infiltrasi “manunggaling kawulo gusti” yang disebarkan oleh Syekh Siti Jenar tersebut yang pada abad ke 16- 17 itu banyak mewarnai kehidupan orang Jawa (kaum abangan). sesuai pernyataan C. Poensen, bahwa umat Islam saat itu tidak mengenal Islam kecuali hanya tentang khitan, puasa dan larangan makan daging babi (Brieven Over Der Islam Uit De Binnen Landen Van Java, Leiden Brill 1886.)
Thariqat juga bermakna keikhlasan hanya karena Allah, Syaikh Ahmad Rifa’i RA ingin menghilangkan taqlid yang menjurus kepada kesyirikan yang banyak terjadi khusunya di pualu Jawa./ibn/09/10/to
oleh : Da Khilna Firdausa dan Neil- Elmuna
tasawuf amali,hakikat tasawuf 1,hakikat tasawuf,pengertian tasawuf amali,apa pendapat anda tentang syariat thariqot dan tasawuf menurut ajaran islam,ebook tasawuf,hakekat dalam tasawuf,Hakikat tasawut



Menurut anak saya setelah diajari pengajian tentang Syari’at Thoriqot Haqiqot, kontan berkomentar tentang mbah Marijan yang gugur saat mengayomi masyarakat dari kekhawatiran bahaya Merapi: ” Pak, berarti kalau begitu mbah Marijan itu hanya menjalani Haqiqot doang, tanpa Syari’at”. Kata anak saya yang baru kelas satu SMP itu.” Bukankah sayri’at itu termasuk segala amaliyah lahir termasuk berusaha dan ber- ikhtiyar?”. “Bukankah secara Syari’at seharusnya beliau berikhtiar lari menghindari Wedhus gembel dan secara Syari’at harus patuh pada pemerintah?”
“Benar nak” jawab saya. “Tapi kenapa kamu tak menyentuh masalah Thoriqotnya mbah Marijan?”.
“Lho, kata bapak Thoriqot itu masalah keikhlasan hati. Siapa yang dapat menduga hati orang?”. “Apakah mbah Marijan masih tetap IKHLAS mengabdi kepada pekerjaan dan masyarakatnya atau sudah mengabdi iklan Extra Joss, kita tak boleh menduga. karena bukankah masalah hati hanya Allah yang tahu?”.
“Pintar kau nak, mari kita do’akan saja agar Thoriqot mbah Marijan dalam tinggal di Merapi tetap bersih karena pengabdiannya kepada rakyat dan pekerjaannya dan Lillaahitaala”.
Mas Saifuddin Elmi
Tulisan tentang Syariat Thoriqot Haqiqot ada di semua kitab karangan Syaikh A. Rifa’i bab Tasawuf seperti kitab Thoriqot atau kitab Abyan Alhawaij. Kitab terakhir ini dapat anda unduh melalui website ini. Silahkan
[...] yang secara lahirnya (tingkah laku dan perbuatan) memakai perhiasan syari’at(menebarkan pesona kebaikan), kemudian membasuh kotoran batinnya dengan air tarikat (hanya kepada [...]