Yang belum membaca bagian pertama, silahkan kunjungi pembahasannya ; Tafsir Tentang Munafik Bagian:1
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آَمَنُوا قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka , mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.”
Inilah kelanjutan dari sifat orang munafik yang terlihat manis mulutnya apabila berhadapan dengan orang lain, akan tetapi di belakang dia akan berbicara lain. Kenapa? Tiada lain karena lemah jiwanya , karena ia takut menghadapi kenyataan. Kepada orang-orang yang telah beriman mereka mengaku telah beriman, dan apabila bertemu dengan teman-teman mereka yang sama-sama jadi setan, atau ketua-ketua yang telah berpikiran sebagai setan, mereka takut didakwa, kemudian berubah pendiriannya. Mengapa telah mengikuti perjalanan orang-orang yang sesat itu ?
Di antara tanda-tanda lain kemunafikan ialah bahwa seorang munafik tidak memiliki satu kepribadian dan identitas yang mandiri serta kokoh kuat. Di lingkungan mana pun dia akan menyesuaikan diri dengan warna lingkungan tersebut. Ketika ia berada di kalangan orang-orang mukmin maka ia menunjukkan keimanan dan kebersamaan. Dan ketika ia berada di kalangan musuh-musuh agama dan umat serta pemimpin Islam, maka ia pun akan bersatu suara dengan mereka dan berbicara tentang hal-hal yang anti orang-orang beriman. Untuk menarik perhatian mereka ia pun menertawakan serta melecehkan kaum mukmin.
Ayat-ayat ini juga memperingatkan kita agar jangan sampai tertipu oleh sikap lahir seseorang, dan siapa pun mengaku sebagai orang yang beriman, janganlah kita menerimanya begitu saja dan memperlakukannya sebagai seorang mukmim. Tetapi hendaknya kita lihat terlebih dahulu dengan siapa ia bergaul dan siapa teman-teman dekatnya. Adalah hal yang tak dapat diterima, bahwa seseorang beriman, tetapi ia juga bersahabat baik dengan musuh-musuh agama dan pemimpin. Iman tak dapat bercampur dengan sikap bersahabat dan berdamai dengan musuh-musuh agama.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
-
Setan, tidak terbatas pada setan yang merupakan makhluk halus. Manusia-manusia pun yang menjadi penyebab tersesatnya orang lain dapat disebut sebagai setan. Untuk itu, kita harus menjauhkan diri dari manusia-manusia seperti itu.
-
Rencana-rencana rahasia, pembentukan pertemuan-pertemuan secara sembunyi-sembunyi anti pemerintahan Islam, menunjukkan tidak adanya keberanian menyatakan akidah dan keyakinan. Munafikin yang selalu menghina dan melecehkan ahli iman, adalah orang-orang pengecut dan tak memiliki mental yang lurus.
Mereka menjawab bahwa pendirian mereka tetap, tidak berubah. Mereka mencampuri orang orang yang telah menjadi pengikut nabi Muhammad SAW itu hanya siasat saja, sebagai olok-olok. Namun pendirian yang asli, tetap mempertahankan yang lama dan tidak mau merubahnya. Dengan satu alasan, seandainya mereka tidak pandai menyesuaikan diri tentu akhirnya tidak dapat mengetahui rahasia lawan kita. Beginilah kira-kira susunan kata-kata untuk menjawab jika setan-setan mereka bertanya. Sedang di segala zaman jawaban yang seperti ini, dari orang yang jiwanya telah pecah, hampir sama saja, hanya susunannya berbeda sedikit-sedikit.Mereka merasa telah menang, sebab dapat memperolok-olokkan orang yang beriman. Padahal bagaimana yang sebenarnya ?
أللهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka”.
Pada ayat sebelumnya telah dikatakan bahwa mereka mencoba memperdayakan Allah dan orang yang beriman, padahal diri merekalah yang mereka perdayakan sedang mereka tidak merasa. Sekarang mereka mengaku bahwa orang-orang yang beriman itu mereka perolok-olokkan, padahal merekalah yang telah diperolok-olokan Allah, dan merekapun tidak sadar. Yang mereka perolok-olokkan itu siapa ? mereka yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, dan mempunyai seorang pemimpin besar yang didukung oleh wahyu. Sandaran mereka yang diperolok-olokkan itu ialah Allah. Orang mempunyai rencana besar, rencana langit. Itulah yang mereka permainkan. Hasilnya bagaimana ?Merekalah jadinya yang diperolok-olokkan Tuhan, dan kesesatan itu diperpanjang, sehingga mereka tidak sadar sama sekali. Mereka menjadi tidak tentu arah, ke hulu dan ke hilir dan tidak tentu arah, resah gelisah, serta serba salah. Kalimat Ya’mahun menurut Syaikh Doktor Abdulkarim Amrullah digambarakan Sebagai ulat kena kencing! Melonjak ke sana dan kemari, maksudnya: telah banyak yang dikerjakan, tetapi hati tidak puas, sebab hati kecil yang di dalam itupun masih bersuara terus mengakui bahwa yang dikerjakan itu memang salah, tetapi tidak mempunyai upaya buat melepaskan diri di dalamnya. Itulah yang dimaksud dengan Allah memperpanjang mereka dalam kesesatan.
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى
“Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk”
فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ
Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka
Artinya, bahwa Nabi SAW telah datang membawakan hudan(petunjuk). Hati kecil mereka sebagai insan yang berakal mengakui bahwa petunjuk Tuhan yang dibawa Nabi itu adalah benar, tidak dapat dibantah. Tetapi karena rayuan hawa-nafsu dan perdayaan setan-setan halus dan setan kasar, terjadilah perjuangan batin. Mau mengikuti kepada petunjuk atau akan tetap dalam kesesatan ? Rupanya menanglah hawa-nafsu dan setan, kalahlah jiwa murni karena kelemahan diri. Lalu diadakanlah pertukaran (barter); badan, petunjuk, diserahkannya kepada orang lain, dan dhalalah(kesesatan),dipilih buat dirinya. Kita sudah bersusah payah, resah gelisah siang dan malam “bekerja” sendirian, disangka laba (keuntungan) yang akan datang, rupa-rupanya pohon tua yang termakan ulat sehingga kita tidak dapat menuai hasilnya. Kalau sekiranya kita melihat wajah mereka pada waktu itu, tentu akan nampak kening yang telah mulai berkerut dan muka yang selalu kusut, sebab hati yang selalu gelisah. Kadang kadang timbul pertanyaan dalam hati apa hasilnya yang telah aku kerjakan. Usiaku telah habis, tenagaku telah punah, aku halangi kebenaran dalam pertumbuhannya namun dia berkembang juga, dan aku sendiri tidak tentu rebah tegaknya. Orang yang aku ejek, hina, caci maki dan olok-olok, namun dia tetap pada pendiriannya juga, sedang aku hanya berdiri ditepi jalan. Aku menggonggong laksana anjing menggonggong terhadap kafilah yang berjalan tengah malam, namun gonggonganku hilang dalam suasana malam dan kafilah itu pun terus melanjutkan perjalanannya.
وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
Dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
Bagaimana mereka akan dapat pimpinan ? Sedangkan pemimpin (utusan) itulah yang mereka tentang selama ini ? Padahal Nabi Muhammad SAW itulah pemimpin. Tiada pimpinan lagi, karena kebenaran hanya satu, di luar kebenaran itu adalah batil. Kalau sekiranya tetap mengelak dari pimpinan wahyu, kemudian mengambil juga pimpinan yang lain, yaitu pimpinan untuk terus sesat: Itulah pimpinan setan.
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api ,
Mengapa api mereka nyalakan ? Ialah karena mengharap mendapat terang dari cahaya api itu.
فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ
Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka,
Api yang telah mereka nyalakan kemudian menggejolak naik dan yang disekelilingnya telah diberinya cahaya, tetapi mata mereka sendiri tidak melihat lagi, oleh karena telah silau oleh cahaya api itu.
وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ
“Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.”
Alangkah tepatnya perumpamaan Tuhan ini. Mereka diumpamakan dengan orang yang membuat unggun untuk membuat api, mengharap nyala dan cahayanya. Artinya bahwa keinginan akan cahaya terang itu memang ada juga. Sebelum Nabi Muhammad SAW menyatakan risalahnya dalam kalangan Yahudi ada pengharapan, menunggu kedatangan nabi akhir zaman, yang mereka namai Messias. Mereka selalu membanggakan kepada orang arab Madinah bahwa Taurat ada yang menyebutkan bahwa mereka akan kedatangan nabi lagi. Sekarang nabi itu telah datang, atau api telah menyala. Api yang telah lama mereka harapkan. Tetapi setelah api menyala, yang di sekelilingnya mendapat terang.
Pada ayat ke-17 surat al-Baqarah ini, Allah menyerupakan munafik dengan orang yang berada di sebut tempat gelap dan kehilangan cahaya penerang, lalu mengalami kebingungan dan tak mempunyai jalan untuk kembali. Sedangkan ayat ini berkata, orang munafik bagaikan orang yang berada di lumpur akibat hujan lebat, di tengah gelap gulita malam yang disertai dengan kilat yang menyambar-nyambar dan guntur yang menggelegar, membuatnya ketakutan setengah mati. Namun ia tidak memiliki tempat berlindung untuk menyelamatkan diri dari hujan, tidak pula memiliki cahaya untuk menghadapi kegelapan, tidak juga ia memiliki jiwa dan mental yang kuat untuk menghadapi petir yang mengguntur merusakkan gendang telinga.
Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:
-
Munafikin tenggelam dalam berbagai kesulitan dan senantiasa merasakan kecemasan. Di dunia ini pun mereka sudah merasakan ketakutan dan keragu-raguan yang selalu mengikuti mereka.
- Ketakutan akan mati, selalu menghantui orang-orang munafik. Hal itu menyebabkan mereka tidak memiliki ketenangan jiwa.
- Allah SWT menguasai orang-orang munafik dan membongkar rahasia-rahasia serta konspirasi-konspirasi mereka.
- Kemunafikan akan berakhir pada kekafiran.
-
Hujan lebat, gelegar petir dan cahaya kilat, adalah hal yang sangat menakutkan orang-orang munafik. Al-Quran adalah sumber rahmat ilahi yang turun untuk umat manusia. Tetapi bagi munafikin ia adalah lonceng bahaya dan sumber kehinaan.
Orang-orang arab Madinah yang dahulunya dihinakan oleh Yahudi, dikatakan orang-orang Ummi (buruk bacaannya), orang-orang yang tidak cerdas, telah menyambut nyala api itu dengan segala sukacita dan mereka telah mendapat cahayanya dan nyalanya. Tetapi orangorang Yahudi itu kehilangan cahaya itu, walaupun api unggun ada di hadapan rumah mereka sendiri. Bertambah nyala api itu, mereka bertambah gelap-gulita dan tidak melihat apa-apa. Mengapa setelah unggun itu menyalakan api, tetapi mereka jadi gelap-gulita dan mata mereka menjadi silau ? jawabannya ada pada ayat selanjutnya:
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ
Mereka tuli, bisu dan buta ,
Meskipun telinga mendengar, mulut bisa berbicara dan mata bisa melihat, tetapi kalau panca indera yang lahir itu telah putus hubungannya dengan batin, maka sama artinya dengan tuli, bisu dan buta. Mengapa mereka menjadi tuli, bisu dan buta ? Batin mereka telah ditutup oleh suatu pendirian salah yang telah ditetapkan, intisari agama Yahudi ajaran asli Nabi Musa AS telah hilang, dan yang tinggal hanya bingkai dan bangkai. Mereka bertahan pada huruf-huruf, tetapi mereka tidak perduli lagi pada isinya. Mereka menyangka mereka lebih di dalam segala hal, padahal karena menyangka lebih itulah mereka menjadi serba kurang.
فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
Meskipun munafik, sama seperti orang lain memiliki mata, telinga dan lidah, tetapi matanya tidak bersedia melihat dan memahami hakikat. Telinganya juga tak ia persiapkan untuk mendengarkan ajaran-ajaran yang hak, dan lidahnya tak pernah mau mengikrarkan kebenaran risalah Nabi Saw. Oleh karena itu, di tempat lain, al-Quran menyerupakan mereka dengan binatang yang memang tidak memiliki panca indera yang merupakan alat untuk memperoleh pengetahuan yang luas itu.
Selain ayat ini, di dalam ayat-ayat lain. Al-Quran juga menggunakan kalimat-kalimat, laa yasy’uruun, laa ya’lamuun, laa yubshiruun, ya’mahuun dan sebagainya untuk orang-orang munafik. Kekafiran batin seorang munafik sedemikian kuat menutupi mata, telinga serta mengelukan lidahnya dan memalingkannya dari hakikat-hakikat, sehingga sama halnya orang kafir, ia sudah tak mampu lagi membedakan mana yang hak dan mana yang batil.
Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan bahwa dengan hilangnya cahaya iman, kegelapan kufur telah sedemikian rupa menyelubunginya sehingga ia tidak lagi mampu melihat sesuatu. Sedangkan ayat ini mengatakan, bukan hanya tidak mampu melihat kebenaran, bahkan kemampuan mendengar dan mengucapkan kebenaran juga sudah hilang dari mereka. Akibat gerak mereka di dalam kedelapan, maka mereka tidak memperoleh apa-apa selain kejatuhan dan kebinasaan. Sebuah jalan yang tidak lagi memiliki jalan kembali.
Sebab langkah salah yang telah dimulai dari awal telah membawa mereka masuk jurang. Apabila kendaraan telah menuju masuk jurang, tidak ada lagi kekuatan yang sanggup mengembalikannya ke tempat yang datar. Tujuannya sudah pasti ialah kehancuran. Dalam ayat ini di contohkan laksana orang yang menghidupkan api mengharapkan nyala dan cahayanya. Tetapi dalam penafsiran lain ada yang menisbahkan seperti mengharapkan hujan turun, agar tanah mendapat kesuburan.
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ
“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat;
Hujan artinya ialah kesuburan sesudah kering, kemakmuran sesudah kemarau. Peladang-peladang telah lama sekali menunggu hujan turun, agar sawah ladang mereka memberikan hasil yang lebih baik kembali,tetapi hujan lebat itu datangnya adalah dengan dahsyat; pertama langit jadi gelap oleh tebalnya awan dan mendung. Setelah itu awan akan muncul, lebih dahulu akan terdengar suaraguruh dan petir, dan kilatpun sambung menyambung; ngeri rasanya.
Kilat dan petir di langit adalah tanda turunnya hujan, kebahagiaan, hijaunya bumi dan kesejahteraan penghuninya. Tetapi ini bukan untuk semua orang, melainkan hanya untuk mereka yang punya kesiapan untuk memanfaatkan bekal dan rahmat ilahi ini, lalu bagaimanakah dengan seorang musafir yang tertinggal sendirian dalam perjalanan di dunia ini?
Cahaya redup api yang dinyalakan oleh orang-orang munafik serta sinar halilintar di langit yang menakjubkan, kedua-duanya tidak akan menerangi dan membimbing mereka dalam menempuh perjalanan hidup. Sebab yang pertama tidak akan lestari dan abadi. Sedangkan yang kedua hanya merupakan pembawa berita gembira yang bagi mereka hanya akan mendatangkan bencana. Halilintar di langit yang menakjubkan itu ialah wahyu ilahi. Wahyu tidak sanggup disaksikan oleh orang-orang munafik dan mereka sengaja tidak mau berusaha memperoleh berkahnya dari Nabi.
Sekalipun mereka menyatakan ingin memanfaatkan cahaya ini, tetapi kilat ini melenyapkan penglihatan mereka dan menghapus jalan bagi mereka. Al-Quran mempermalukan mereka sedemikian rupa sehingga mereka terpaksa tak sanggup melanjutkan perjalanan bersama orang-orang mukmin. Mereka tidak punya jalan untuk maju, tidak pula jalan untuk kembali. Semua ini, tentunya merupakan akibat dari kemunafikan mereka kepada Allah dan orang-orang mukmin. Dan seandainya Allah menghendaki hukuman yang sebenarnya terhadap mereka, niscaya Dia tidak hanya menghentikan perjalanan mereka, tetapi juga akan melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آَذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ
“Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati”.
Mereka mengharapkan hujan turun, tetapi mereka takut oleh gelapnya mendung, takut suara guruh dan cahayanya kilat, Serta petir yang sambung-menyambung di udara. Padahal tiap-tiap hujan lebat sebagai penutup kemarau panjang, mestilah diiringi oleh gelap, guruh kilat dan petir. Kebenaran Ilahi akan tegak di alam. Kebenaran itu adalah laksana hujan. Untuk menghadirkannya pastilah gelap dulu. Yang menggelapkan itu bukan kutuk laknat, tetapi karena bumi itu dilindungi oleh air yang akan turun. Dan guruh berbunyi mendayu dan menggarang, artinya peringatan-peringatan yang keras sering dengan kedatangan hidayat Ilahi. Suara Rasul SAW akan keras laksana guruh menghapus adat lama dan pusaka yang usang, taqlid dan berkeras mempertahankan pusaka nenek-moyang . Kadang-kadang memancar kilatan api kemurkaan dan ancaman. Siapa yang mengikut kebenaran, mari ke sini: iringkan daku menuju surga. Tetapi siapa yang menentang, sengsaralah yang menunggunya dan kelak neraka sebagai tempatnya. kapan kehendak Tuhan akan ditegakkan, semua orang wajib patuh. Pangkat dan kebesaran dunia, kekayaan yang berlimpah-limpah tidak bisa menolong. Yang mulia disisi Allah hanyalah orang yang takwa. Tuhan tidak menghitung berapa penghasilanmu sebulan, berapa orang pembantu rumahmu, berapa luas bidang tanahmu. Tuhan hanya menghitung amalmu. Pendirian yang palsu tidak laku lagi, yang laku hanyalah ikhlas.
Harta dunia dan anak yang selama ini menjadi kebanggaan bagimu, kalau dirimu tidak engkau sediakan untuk menjunjung tinggi kehendak Allah, maka semuanya itu akan menjadi fitnah bagimu. Engkau akan kembali ke Tuhan, engkau akan dibangkitkan kembali sesudah mati dan akan diperhitungkan amalmu selama hidup. Di akhirat harta kekayaan duniamu tidaklah akan menolong. Dan tidak ada orang yang akan membelamu. Pembelaan hanyalah amalan sendiri. Perkataan seperti ini adalah gelap bagi orang yang bertahan pada kemegahan dunia, meskipun bagi orang mukmin membawa gembira, sebab hujan pasti turun. Perkataan seperti ini bagi orang yang memang bertahan pada kebatilan memang laksana guruh yang bunyinya menakutkan, atau laksana kilat dan petir yang memancarkan api. Oleh karena takutnya mereka kepada penghantar-panghantar hujan itu, tidaklah mereka gembira menunggu hujan, tetapi mereka tutup lubang telinga dengan jari, supaya guruh dan petir itu jangan terdengar, sebab semua itu mereka pandang ancaman maut bagi mereka. Mereka takut mati, mereka tidak mau bercerai dengan kehidupan lama yang mereka pegang teguh itu. Mereka tidak mau berpisah dengan benda yang mereka junjung sebagai penjunjung’Iuhan. Sebagaimana disebutkan dalam Surat at-Taubah ayat 24:
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: “Jika bapa-bapa,anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Kalau tidak mau begitu, maka awas!!! karena hokum Tuhan pasti datang. Niscaya orang yang munafik takut mendengar ayat ini. Niscaya mereka sumbatkan jari mereka ke dalam telinga supaya jangan mendengar perkataan demikian. Mereka pandang itu laksana petir; mereka takut mati.
وَاللهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
-
Orang munafik tidak punya kesanggupan untuk melihat cahaya Ilahi. Ibarat kilau petir di angkasa, sinarnya menyilaukan mata mereka.
- Sekalipun orang munafik adakalanya menjejakkan kakinya ke depan, dia tetap tidak akan bisa maju dan terhenti dari gerakan.
- Orang munafik sewaktu-waktu bisa mendapat murka Allah karena perbuatan-perbuatan yang ia lakukan.
-
Orang munafik tidak akan bisa menipu Allah, dan Allah akan memberikannya balasan dan hukuman. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ainal mafarr (Kemana mereka akan lari )?
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka.
Oleh karena mereka meraba-raba di dalam gelap, terutama kegelapan jiwa, maka kilat yang sambung-menyambung yang mereka takuti itu nyaris membawa celaka mereka sendiri. Demikianlah, bagi orang mukmin kilat itu tidak apa-apa. Mereka tahan melihat guruh dan melihat pancaran apinya yang hebat itu, tetapi si munafik menjadi kebingungan karena tidak tentu jalan yang akan ditempuh.
كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ
Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu,
Mereka angsur melangkah ke muka selangkah, tetapi takut tidak juga hilang :
وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا
Dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.
Perjalanan itu tidak diteruskan lagi, karena mereka hanya meraba-raba,sebab pelita yang terang tidak ada di dalam dada mereka, yaitu pelita iman.
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ
Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
Artinya, sia-sia penglihatan dan pendengaran yang masih ada pada mereka, mudah saja bagi Allah menghilangkannya sama sekali, sehingga tamatlah riwayat hidup mereka di dalam kekufuran dan kesesatan, dikarenakan darisikap jiwa yang pada mulanya ragu-ragu, lalu mengambil jalan yang salah, lalu kepadaman cahaya.
إِنَّ االلهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Oleh Sebab itu, berlindunglah kepada-Nya dari bahaya yang demikian. Ada beberapa kesan yang kita dapat setelah kita renungkan ayatayat ini. Dengan 20 buah ayat awal surah al-Baqarah diberikan jawaban atas permohonan kita kepada Tuhan agar ditunjukkan jalan yang lurus, jalan orang yang diberi nikmat, bukan jalan yang dimurkai dan yang sesat. Pada 5 ayat yang pertama dari Surat ini digariskan jalan bahagia yang akan ditempuh mencari petunjuk dengan takwa dan iman. Tuhan menjamin, asal jalan itu ditempuh, pastilah tercapai apa yang dimohonkan kepada-Nya. Kemudian dua ayat berikutnya ayat 6 dan ayat 7 diterangkan nasib orang yang ditutup Allah hati mereka, karena sikap jiwa yang menolak. Tetapi mulai dari ayat 8 sampai ayat 20 diterangkanlah jiwa yang ragu, pribadi yang pecah, munafik, lain di mulut lain di hati, yang menjadikan hidup terkatung-katung tak tentu arah. Menjadi kafir betul, sudahlah dapat diatasi, dan sudah terang bahwa itu adalah lawan. Tetapi yang sakit sekali ialah kafir dengan topeng Islam, sampai-sampai 12 ayat Tuhan menguraikan jiwa yang demikian. Maka bukanlah maksud ayat menceritakan keadaan munafik Yahudi dan munafik Arab Madinah itu hanya sekedar cerita, tetapi untuk menjadi ibrah cermin perbandingan bagi kita, umat Muhammad SAW untuk muhasabah (instropeksi) dan memeriksa keadaan jiwa kita sendiri, seperti kata-kata mutiara Sayyidina Umar al-Khattab:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
“Hitunglah dirimu, sebelum kamu dihitung.”
Jangan kita dengan mudah menuduh orang lain munafik, tetapi perhatikanlah pada jiwa kita sendiri, kalau-kalau penyakit ini ada pada diri kita. Kita entah sedikit entah banyak. Tafakkurlah kita memikirkan bahwa seorang Muslim yang besar, seperti beliau (Umar bin Khattab) selalu bertanya kepada seorang sahabat yang alim tentang penyakit-penyakit jiwa manusia yaitu Huzaifah bin al-Yaman : “Huzaifah ! Beritahu padaku, mungkin ada sifat-sifat munafik yang aku sendiri tidak sadar.”Siapa Umar ? dan siapa kita ? Satu kesan lagi yang kita dapat ialah bahwa berbeda dengan di Mekkah, di Madinah masyarakatnya tidak ada kesatuan pimpinan. Ada 2 golongan yaitu Yahudi dan Arab penduduk asli. Yahudinya pecah, karena semuanya merasa diri berhak terkemuka, sebab itu terangkum dengan indah dalam Surah al-Hasyr ayat 14) :
تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى
“Engkau sangka mereka bersatu, tetapi hati mereka pecah-belah.”
Dan kebiasaan orang Yahudi, yang penting bagi mereka hanya satu, yaitu memegang kendali ekonomi. Memberi pinjaman uang dengan riba kepada penduduk Arab dan menanam pengaruh. Di kalangan Arab sendiri ada yang penuh nafsu hendak menjadi pemimpin, yaitu Abdullah bin Ubai. Tetapi moralnya yang bejat menurunkan namanya. Menurut Tafsir, celaan keras atas orang yang menyuruh hamba sahayanya perempuan melacurkan diri dan dia memungut sewanya yang tersebut dalam Surah an-Nur, yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubai. Oleh Sebab itu, sudah dapat dimengerti kalau pimpinan rasulullah disambut dengan bersemangat oleh golongan terbesar penduduk Arab Madinah. Maka timbulnya kemunafikan ialah karena tidak dapat lagi melawan secara berterang-terang, seperti yang dilakukan orang-orang yang hidup di Mekkah, sebab pimpinan di Mekkah masih di tangan musyrikin.
Hamdan Lillah…
Sholli ‘Ala Muhammad Wa Aalihi
Ibnu Dahlan El-Madary, 07052011-03 Jumadil al-Akhir 1432H
Sungai Besi, Seri Kembangan, Kuala Lumpur, 02;05AM
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آَمَنُوا قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka , mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.”
Inilah kelanjutan dari sifat orang munafik yang terlihat manis mulutnya apabila berhadapan dengan orang lain, akan tetapi di belakang dia akan berbicara lain. Kenapa? Tiada lain karena lemah jiwanya , karena ia takut menghadapi kenyataan. Kepada orang-orang yang telah beriman mereka mengaku telah beriman, dan apabila bertemu dengan teman-teman mereka yang sama-sama jadi setan, atau ketua-ketua yang telah berpikiran sebagai setan, mereka takut didakwa, kemudian berubah pendiriannya. Mengapa telah mengikuti perjalanan orang-orang yang sesat itu ?
Di antara tanda-tanda lain kemunafikan ialah bahwa seorang munafik tidak memiliki satu kepribadian dan identitas yang mandiri serta kokoh kuat. Di lingkungan mana pun dia akan menyesuaikan diri dengan warna lingkungan tersebut. Ketika ia berada di kalangan orang-orang mukmin maka ia menunjukkan keimanan dan kebersamaan. Dan ketika ia berada di kalangan musuh-musuh agama dan umat serta pemimpin Islam, maka ia pun akan bersatu suara dengan mereka dan berbicara tentang hal-hal yang anti orang-orang beriman. Untuk menarik perhatian mereka ia pun menertawakan serta melecehkan kaum mukmin.
Ayat-ayat ini juga memperingatkan kita agar jangan sampai tertipu oleh sikap lahir seseorang, dan siapa pun mengaku sebagai orang yang beriman, janganlah kita menerimanya begitu saja dan memperlakukannya sebagai seorang mukmim. Tetapi hendaknya kita lihat terlebih dahulu dengan siapa ia bergaul dan siapa teman-teman dekatnya. Adalah hal yang tak dapat diterima, bahwa seseorang beriman, tetapi ia juga bersahabat baik dengan musuh-musuh agama dan pemimpin. Iman tak dapat bercampur dengan sikap bersahabat dan berdamai dengan musuh-musuh agama.
Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Setan, tidak terbatas pada setan yang merupakan makhluk halus. Manusia-manusia pun yang menjadi penyebab tersesatnya orang lain dapat disebut sebagai setan. Untuk itu, kita harus menjauhkan diri dari manusia-manusia seperti itu.
2. Rencana-rencana rahasia, pembentukan pertemuan-pertemuan secara sembunyi-sembunyi anti pemerintahan Islam, menunjukkan tidak adanya keberanian menyatakan akidah dan keyakinan. Munafikin yang selalu menghina dan melecehkan ahli iman, adalah orang-orang pengecut dan tak memiliki mental yang lurus.
Mereka menjawab bahwa pendirian mereka tetap, tidak berubah. Mereka mencampuri orang orang yang telah menjadi pengikut nabi Muhammad SAW itu hanya siasat saja, sebagai olok-olok. Namun pendirian yang asli, tetap mempertahankan yang lama dan tidak mau merubahnya. Dengan satu alasan, seandainya mereka tidak pandai menyesuaikan diri tentu akhirnya tidak dapat mengetahui rahasia lawan kita. Beginilah kira-kira susunan kata-kata untuk menjawab jika setan-setan mereka bertanya. Sedang di segala zaman jawaban yang seperti ini, dari orang yang jiwanya telah pecah, hampir sama saja, hanya susunannya berbeda sedikit-sedikit.Mereka merasa telah menang, sebab dapat memperolok-olokkan orang yang beriman. Padahal bagaimana yang sebenarnya ?
أللهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ
“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka”.
Pada ayat sebelumnya telah dikatakan bahwa mereka mencoba memperdayakan Allah dan orang yang beriman, padahal diri merekalah yang mereka perdayakan sedang mereka tidak merasa. Sekarang mereka mengaku bahwa orang-orang yang beriman itu mereka perolok-olokkan, padahal merekalah yang telah diperolok-olokan Allah, dan merekapun tidak sadar. Yang mereka perolok-olokkan itu siapa ? mereka yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, dan mempunyai seorang pemimpin besar yang didukung oleh wahyu. Sandaran mereka yang diperolok-olokkan itu ialah Allah. Orang mempunyai rencana besar, rencana langit. Itulah yang mereka permainkan. Hasilnya bagaimana ?Merekalah jadinya yang diperolok-olokkan Tuhan, dan kesesatan itu diperpanjang, sehingga mereka tidak sadar sama sekali. Mereka menjadi tidak tentu arah, ke hulu dan ke hilir dan tidak tentu arah, resah gelisah, serta serba salah. Kalimat Ya’mahun menurut Syaikh Doktor Abdulkarim Amrullah digambarakan Sebagai ulat kena kencing! Melonjak ke sana dan kemari, maksudnya: telah banyak yang dikerjakan, tetapi hati tidak puas, sebab hati kecil yang di dalam itupun masih bersuara terus mengakui bahwa yang dikerjakan itu memang salah, tetapi tidak mempunyai upaya buat melepaskan diri di dalamnya. Itulah yang dimaksud dengan Allah memperpanjang mereka dalam kesesatan.
أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى
“Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk”
فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ
Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka
Artinya, bahwa Nabi SAW telah datang membawakan hudan(petunjuk). Hati kecil mereka sebagai insan yang berakal mengakui bahwa petunjuk Tuhan yang dibawa Nabi itu adalah benar, tidak dapat dibantah. Tetapi karena rayuan hawa-nafsu dan perdayaan setan-setan halus dan setan kasar, terjadilah perjuangan batin. Mau mengikuti kepada petunjuk atau akan tetap dalam kesesatan ? Rupanya menanglah hawa-nafsu dan setan, kalahlah jiwa murni karena kelemahan diri. Lalu diadakanlah pertukaran (barter); badan, petunjuk, diserahkannya kepada orang lain, dan dhalalah(kesesatan),dipilih buat dirinya. Kita sudah bersusah payah, resah gelisah siang dan malam “bekerja” sendirian, disangka laba (keuntungan) yang akan datang, rupa-rupanya pohon tua yang termakan ulat sehingga kita tidak dapat menuai hasilnya. Kalau sekiranya kita melihat wajah mereka pada waktu itu, tentu akan nampak kening yang telah mulai berkerut dan muka yang selalu kusut, sebab hati yang selalu gelisah. Kadang kadang timbul pertanyaan dalam hati apa hasilnya yang telah aku kerjakan. Usiaku telah habis, tenagaku telah punah, aku halangi kebenaran dalam pertumbuhannya namun dia berkembang juga, dan aku sendiri tidak tentu rebah tegaknya. Orang yang aku ejek, hina, caci maki dan olok-olok, namun dia tetap pada pendiriannya juga, sedang aku hanya berdiri ditepi jalan. Aku menggonggong laksana anjing menggonggong terhadap kafilah yang berjalan tengah malam, namun gonggonganku hilang dalam suasana malam dan kafilah itu pun terus melanjutkan perjalanannya.
وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
Dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
Bagaimana mereka akan dapat pimpinan ? Sedangkan pemimpin (utusan) itulah yang mereka tentang selama ini ? Padahal Nabi Muhammad SAW itulah pemimpin. Tiada pimpinan lagi, karena kebenaran hanya satu, di luar kebenaran itu adalah batil. Kalau sekiranya tetap mengelak dari pimpinan wahyu, kemudian mengambil juga pimpinan yang lain, yaitu pimpinan untuk terus sesat: Itulah pimpinan setan.
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api ,
Mengapa api mereka nyalakan ? Ialah karena mengharap mendapat terang dari cahaya api itu.
فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ
Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka,
Api yang telah mereka nyalakan kemudian menggejolak naik dan yang disekelilingnya telah diberinya cahaya, tetapi mata mereka sendiri tidak melihat lagi, oleh karena telah silau oleh cahaya api itu.
وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ
Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Alangkah tepatnya perumpamaan Tuhan ini. Mereka diumpamakan dengan orang yang membuat unggun untuk membuat api, mengharap nyala dan cahayanya. Artinya bahwa keinginan akan cahaya terang itu memang ada juga. Sebelum Nabi Muhammad SAW menyatakan risalahnya dalam kalangan Yahudi ada pengharapan, menunggu kedatangan nabi akhir zaman, yang mereka namai Messias. Mereka selalu membanggakan kepada orang arab Madinah bahwa Taurat ada yang menyebutkan bahwa mereka akan kedatangan nabi lagi. Sekarang nabi itu telah datang, atau api telah menyala. Api yang telah lama mereka harapkan. Tetapi setelah api menyala, yang di sekelilingnya mendapat terang.
Pada ayat ke-17 surat al-Baqarah ini, Allah menyerupakan munafik dengan orang yang berada di sebut tempat gelap dan kehilangan cahaya penerang, lalu mengalami kebingungan dan tak mempunyai jalan untuk kembali. Sedangkan ayat ini berkata, orang munafik bagaikan orang yang berada di lumpur akibat hujan lebat, di tengah gelap gulita malam yang disertai dengan kilat yang menyambar-nyambar dan guntur yang menggelegar, membuatnya ketakutan setengah mati. Namun ia tidak memiliki tempat berlindung untuk menyelamatkan diri dari hujan, tidak pula memiliki cahaya untuk menghadapi kegelapan, tidak juga ia memiliki jiwa dan mental yang kuat untuk menghadapi petir yang mengguntur merusakkan gendang telinga.
Dari dua ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Munafikin tenggelam dalam berbagai kesulitan dan senantiasa merasakan kecemasan. Di dunia ini pun mereka sudah merasakan ketakutan dan keragu-raguan yang selalu mengikuti mereka.
2. Ketakutan akan mati, selalu menghantui orang-orang munafik. Hal itu menyebabkan mereka tidak memiliki ketenangan jiwa.
3. Allah SWT menguasai orang-orang munafik dan membongkar rahasia-rahasia serta konspirasi-konspirasi mereka.
4. Kemunafikan akan berakhir pada kekafiran.
5. Hujan lebat, gelegar petir dan cahaya kilat, adalah hal yang sangat menakutkan orang-orang munafik. Al-Quran adalah sumber rahmat ilahi yang turun untuk umat manusia. Tetapi bagi munafikin ia adalah lonceng bahaya dan sumber kehinaan.
Orang-orang arab Madinah yang dahulunya dihinakan oleh Yahudi, dikatakan orang-orang Ummi (buruk bacaannya), orang-orang yang tidak cerdas, telah menyambut nyala api itu dengan segala sukacita dan mereka telah mendapat cahayanya dan nyalanya. Tetapi orangorang Yahudi itu kehilangan cahaya itu, walaupun api unggun ada di hadapan rumah mereka sendiri. Bertambah nyala api itu, mereka bertambah gelap-gulita dan tidak melihat apa-apa. Mengapa setelah unggun itu menyalakan api, tetapi mereka jadi gelap-gulita dan mata mereka menjadi silau ? jawabannya ada pada ayat selanjutnya:
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ
Mereka tuli, bisu dan buta ,
Meskipun telinga mendengar, mulut bisa berbicara dan mata bisa melihat, tetapi kalau panca indera yang lahir itu telah putus hubungannya dengan batin, maka sama artinya dengan tuli, bisu dan buta. Mengapa mereka menjadi tuli, bisu dan buta ? Batin mereka telah ditutup oleh suatu pendirian salah yang telah ditetapkan, intisari agama Yahudi ajaran asli Nabi Musa AS telah hilang, dan yang tinggal hanya bingkai dan bangkai. Mereka bertahan pada huruf-huruf, tetapi mereka tidak perduli lagi pada isinya. Mereka menyangka mereka lebih di dalam segala hal, padahal karena menyangka lebih itulah mereka menjadi serba kurang.
فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
Meskipun munafik, sama seperti orang lain memiliki mata, telinga dan lidah, tetapi matanya tidak bersedia melihat dan memahami hakikat. Telinganya juga tak ia persiapkan untuk mendengarkan ajaran-ajaran yang hak, dan lidahnya tak pernah mau mengikrarkan kebenaran risalah Nabi Saw. Oleh karena itu, di tempat lain, al-Quran menyerupakan mereka dengan binatang yang memang tidak memiliki panca indera yang merupakan alat untuk memperoleh pengetahuan yang luas itu.
Selain ayat ini, di dalam ayat-ayat lain. Al-Quran juga menggunakan kalimat-kalimat, laa yasy’uruun, laa ya’lamuun, laa yubshiruun, ya’mahuun dan sebagainya untuk orang-orang munafik. Kekafiran batin seorang munafik sedemikian kuat menutupi mata, telinga serta mengelukan lidahnya dan memalingkannya dari hakikat-hakikat, sehingga sama halnya orang kafir, ia sudah tak mampu lagi membedakan mana yang hak dan mana yang batil.
Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan bahwa dengan hilangnya cahaya iman, kegelapan kufur telah sedemikian rupa menyelubunginya sehingga ia tidak lagi mampu melihat sesuatu. Sedangkan ayat ini mengatakan, bukan hanya tidak mampu melihat kebenaran, bahkan kemampuan mendengar dan mengucapkan kebenaran juga sudah hilang dari mereka. Akibat gerak mereka di dalam kedelapan, maka mereka tidak memperoleh apa-apa selain kejatuhan dan kebinasaan. Sebuah jalan yang tidak lagi memiliki jalan kembali.
Sebab langkah salah yang telah dimulai dari awal telah membawa mereka masuk jurang. Apabila kendaraan telah menuju masuk jurang, tidak ada lagi kekuatan yang sanggup mengembalikannya ke tempat yang datar. Tujuannya sudah pasti ialah kehancuran. Dalam ayat ini di contohkan laksana orang yang menghidupkan api mengharapkan nyala dan cahayanya. Tetapi dalam penafsiran lain ada yang menisbahkan seperti mengharapkan hujan turun, agar tanah mendapat kesuburan.
أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ
“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat;
Hujan artinya ialah kesuburan sesudah kering, kemakmuran sesudah kemarau. Peladang-peladang telah lama sekali menunggu hujan turun, agar sawah ladang mereka memberikan hasil yang lebih baik kembali,tetapi hujan lebat itu datangnya adalah dengan dahsyat; pertama langit jadi gelap oleh tebalnya awan dan mendung. Setelah itu awan akan muncul, lebih dahulu akan terdengar suaraguruh dan petir, dan kilatpun sambung menyambung; ngeri rasanya.
Kilat dan petir di langit adalah tanda turunnya hujan, kebahagiaan, hijaunya bumi dan kesejahteraan penghuninya. Tetapi ini bukan untuk semua orang, melainkan hanya untuk mereka yang punya kesiapan untuk memanfaatkan bekal dan rahmat ilahi ini, lalu bagaimanakah dengan seorang musafir yang tertinggal sendirian dalam perjalanan di dunia ini?
Cahaya redup api yang dinyalakan oleh orang-orang munafik serta sinar halilintar di langit yang menakjubkan, kedua-duanya tidak akan menerangi dan membimbing mereka dalam menempuh perjalanan hidup. Sebab yang pertama tidak akan lestari dan abadi. Sedangkan yang kedua hanya merupakan pembawa berita gembira yang bagi mereka hanya akan mendatangkan bencana. Halilintar di langit yang menakjubkan itu ialah wahyu ilahi. Wahyu tidak sanggup disaksikan oleh orang-orang munafik dan mereka sengaja tidak mau berusaha memperoleh berkahnya dari Nabi.
Sekalipun mereka menyatakan ingin memanfaatkan cahaya ini, tetapi kilat ini melenyapkan penglihatan mereka dan menghapus jalan bagi mereka. Al-Quran mempermalukan mereka sedemikian rupa sehingga mereka terpaksa tak sanggup melanjutkan perjalanan bersama orang-orang mukmin. Mereka tidak punya jalan untuk maju, tidak pula jalan untuk kembali. Semua ini, tentunya merupakan akibat dari kemunafikan mereka kepada Allah dan orang-orang mukmin. Dan seandainya Allah menghendaki hukuman yang sebenarnya terhadap mereka, niscaya Dia tidak hanya menghentikan perjalanan mereka, tetapi juga akan melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آَذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ
Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati .
Mereka mengharapkan hujan turun, tetapi mereka takut oleh gelapnya mendung, takut suara guruh dan cahayanya kilat, Serta petir yang sambung-menyambung di udara. Padahal tiap-tiap hujan lebat sebagai penutup kemarau panjang, mestilah diiringi oleh gelap, guruh kilat dan petir. Kebenaran Ilahi akan tegak di alam. Kebenaran itu adalah laksana hujan. Untuk menghadirkannya pastilah gelap dulu. Yang menggelapkan itu bukan kutuk laknat, tetapi karena bumi itu dilindungi oleh air yang akan turun. Dan guruh berbunyi mendayu dan menggarang, artinya peringatan-peringatan yang keras sering dengan kedatangan hidayat Ilahi. Suara Rasul SAW akan keras laksana guruh menghapus adat lama dan pusaka yang usang, taqlid dan berkeras mempertahankan pusaka nenek-moyang . Kadang-kadang memancar kilatan api kemurkaan dan ancaman. Siapa yang mengikut kebenaran, mari ke sini: iringkan daku menuju surga. Tetapi siapa yang menentang, sengsaralah yang menunggunya dan kelak neraka sebagai tempatnya. kapan kehendak Tuhan akan ditegakkan, semua orang wajib patuh. Pangkat dan kebesaran dunia, kekayaan yang berlimpah-limpah tidak bisa menolong. Yang mulia disisi Allah hanyalah orang yang takwa. Tuhan tidak menghitung berapa penghasilanmu sebulan, berapa orang pembantu rumahmu, berapa luas bidang tanahmu. Tuhan hanya menghitung amalmu. Pendirian yang palsu tidak laku lagi, yang laku hanyalah ikhlas. Harta dunia dan anak yang selama ini menjadi kebanggaan bagimu, kalau dirimu tidak engkau sediakan untuk menjunjung tinggi kehendak Allah, maka semuanya itu akan menjadi fitnah bagimu. Engkau akan kembali ke Tuhan, engkau akan dibangkitkan kembali sesudah mati dan akan diperhitungkan amalmu selama hidup. Di akhirat harta kekayaan duniamu tidaklah akan menolong. Dan tidak ada orang yang akan membelamu. Pembelaan hanyalah amalan sendiri. Perkataan seperti ini adalah gelap bagi orang yang bertahan pada kemegahan dunia, meskipun bagi orang mukmin membawa gembira, sebab hujan pasti turun. Perkataan seperti ini bagi orang yang memang bertahan pada kebatilan memang laksana guruh yang bunyinya menakutkan, atau laksana kilat dan petir yang memancarkan api. Oleh karena takutnya mereka kepada penghantar-panghantar hujan itu, tidaklah mereka gembira menunggu hujan, tetapi mereka tutup lubang telinga dengan jari, supaya guruh dan petir itu jangan terdengar, sebab semua itu mereka pandang ancaman maut bagi mereka. Mereka takut mati, mereka tidak mau bercerai dengan kehidupan lama yang mereka pegang teguh itu. Mereka tidak mau berpisah dengan benda yang mereka junjung sebagai penjunjung’Iuhan. Sebagaimana disebutkan dalam Surat at-Taubah ayat 24:
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: “Jika bapa-bapa,anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Kalau tidak mau begitu, maka awas!!! karena hokum Tuhan pasti datang. Niscaya orang yang munafik takut mendengar ayat ini. Niscaya mereka sumbatkan jari mereka ke dalam telinga supaya jangan mendengar perkataan demikian. Mereka pandang itu laksana petir; mereka takut mati.
وَاللهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir .
Dari ayat tadi terdapat empat poin pelajaran yang dapat dipetik:
1. Orang munafik tidak punya kesanggupan untuk melihat cahaya Ilahi. Ibarat kilau petir di angkasa, sinarnya menyilaukan mata mereka.
2. Sekalipun orang munafik adakalanya menjejakkan kakinya ke depan, dia tetap tidak akan bisa maju dan terhenti dari gerakan.
3. Orang munafik sewaktu-waktu bisa mendapat murka Allah karena perbuatan-perbuatan yang ia lakukan.
4. Orang munafik tidak akan bisa menipu Allah, dan Allah akan memberikannya balasan dan hukuman. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Ainal mafarr (Kemana mereka akan lari )?
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka.
Oleh karena mereka meraba-raba di dalam gelap, terutama kegelapan jiwa, maka kilat yang sambung-menyambung yang mereka takuti itu nyaris membawa celaka mereka sendiri. Demikianlah, bagi orang mukmin kilat itu tidak apa-apa. Mereka tahan melihat guruh dan melihat pancaran apinya yang hebat itu, tetapi si munafik menjadi kebingungan karena tidak tentu jalan yang akan ditempuh.
كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ
Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu,
Mereka angsur melangkah ke muka selangkah, tetapi takut tidak juga hilang :
وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا
Dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.
Perjalanan itu tidak diteruskan lagi, karena mereka hanya meraba-raba,sebab pelita yang terang tidak ada di dalam dada mereka, yaitu pelita iman.
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ
Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
Artinya, sia-sia penglihatan dan pendengaran yang masih ada pada mereka, mudah saja bagi Allah menghilangkannya sama sekali, sehingga tamatlah riwayat hidup mereka di dalam kekufuran dan kesesatan, dikarenakan darisikap jiwa yang pada mulanya ragu-ragu, lalu mengambil jalan yang salah, lalu kepadaman cahaya.
إِنَّ االلهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Oleh Sebab itu, berlindunglah kepada-Nya dari bahaya yang demikian. Ada beberapa kesan yang kita dapat setelah kita renungkan ayatayat ini. Dengan 20 buah ayat awal surah al-Baqarah diberikan jawaban atas permohonan kita kepada Tuhan agar ditunjukkan jalan yang lurus, jalan orang yang diberi nikmat, bukan jalan yang dimurkai dan yang sesat. Pada 5 ayat yang pertama dari Surat ini digariskan jalan bahagia yang akan ditempuh mencari petunjuk dengan takwa dan iman. Tuhan menjamin, asal jalan itu ditempuh, pastilah tercapai apa yang dimohonkan kepada-Nya. Kemudian dua ayat berikutnya ayat 6 dan ayat 7 diterangkan nasib orang yang ditutup Allah hati mereka, karena sikap jiwa yang menolak. Tetapi mulai dari ayat 8 sampai ayat 20 diterangkanlah jiwa yang ragu, pribadi yang pecah, munafik, lain di mulut lain di hati, yang menjadikan hidup terkatung-katung tak tentu arah. Menjadi kafir betul, sudahlah dapat diatasi, dan sudah terang bahwa itu adalah lawan. Tetapi yang sakit sekali ialah kafir dengan topeng Islam, sampai-sampai 12 ayat Tuhan menguraikan jiwa yang demikian. Maka bukanlah maksud ayat menceritakan keadaan munafik Yahudi dan munafik Arab Madinah itu hanya sekedar cerita, tetapi untuk menjadi ibrah cermin perbandingan bagi kita, umat Muhammad SAW untuk muhasabah (instropeksi) dan memeriksa keadaan jiwa kita sendiri, seperti kata-kata mutiara Sayyidina Umar al-Khattab:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
“Hitunglah dirimu, sebelum kamu dihitung.”
Jangan kita dengan mudah menuduh orang lain munafik, tetapi perhatikanlah pada jiwa kita sendiri, kalau-kalau penyakit ini ada pada diri kita. Kita entah sedikit entah banyak. Tafakkurlah kita memikirkan bahwa seorang Muslim yang besar, seperti beliau (Umar bin Khattab) selalu bertanya kepada seorang sahabat yang alim tentang penyakit-penyakit jiwa manusia yaitu Huzaifah bin al-Yaman : “Huzaifah ! Beritahu padaku, mungkin ada sifat-sifat munafik yang aku sendiri tidak sadar.”Siapa Umar ? dan siapa kita ? Satu kesan lagi yang kita dapat ialah bahwa berbeda dengan di Mekkah, di Madinah masyarakatnya tidak ada kesatuan pimpinan. Ada 2 golongan yaitu Yahudi dan Arab penduduk asli. Yahudinya pecah, karena semuanya merasa diri berhak terkemuka, sebab itu terangkum dengan indah dalam Surah al-Hasyr ayat 14) :
تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى
“Engkau sangka mereka bersatu, tetapi hati mereka pecah-belah.”
Dan kebiasaan orang Yahudi, yang penting bagi mereka hanya satu, yaitu memegang kendali ekonomi. Memberi pinjaman uang dengan riba kepada penduduk Arab dan menanam pengaruh. Di kalangan Arab sendiri ada yang penuh nafsu hendak menjadi pemimpin, yaitu Abdullah bin Ubai. Tetapi moralnya yang bejat menurunkan namanya. Menurut Tafsir, celaan keras atas orang yang menyuruh hamba sahayanya perempuan melacurkan diri dan dia memungut sewanya yang tersebut dalam Surah an-Nur, yang dimaksud adalah Abdullah bin Ubai. Oleh Sebab itu, sudah dapat dimengerti kalau pimpinan rasulullah disambut dengan bersemangat oleh golongan terbesar penduduk Arab Madinah. Maka timbulnya kemunafikan ialah karena tidak dapat lagi melawan secara berterang-terang, seperti yang dilakukan orang-orang yang hidup di Mekkah, sebab pimpinan di Mekkah masih di tangan musyrikin.
Hamdan Lillah…
Sholli ‘Ala Muhammad Wa Aalihi
Ibnu Dahlan El-Madary, 07052011-03 Jumadil al-Akhir 1432H
Sungai Besi, Seri Kembangan, Kuala Lumpur, 02;05AM
tentang munafik (13),kumpulan kalimat teguran untuk orang yg munafik dalam berkata kata (2),bagian perilaku tercela (1),hukum menuduh munafik (1),Orang takut mati munafik (1),Pendidikan agama mengenai sifat munafik manusia terutama mereka yang lebih mengenal agama (1)





