Protes Malaikat
Tanbihun.com- Para Malaikat pernah protes kepada Allah Ta’ala, ketika Allah Ta’ala menjadikan manusia sebagai Khalifah bumi. “Apakah Engkau hendak menjadikan (manusia sebagai khalifah) orang yang senang merusak bumi dan mengalirkan darah? Sedangkan kami bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan demi untuk-Mu”. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku lebih Maha Tahu hal-hal yang tidak kalian ketahui.”
Dalam kaca mata alam malakut, para Malaikat dapat melihat sifat-sifat manusia ketika berinteraksi dengan dunia. Dan yang tampak di kaca mata malaikat adalah dua sifat utama nafsu: Nafsu hewaniyah-Bahamiyah (kebinatangan) dan Nafsu Sabu’iyah (kebuasan). Kebinatangan akan menjurus pada sikap eksploitatif terhadap apa saja yang bisa memuaskan syahwatnya, dan berakhir dengan merusak isi bumi, sedangkan kebuasan bisa mendukung nafsunya untuk menumpahkan darah terhadap sesame manusia.
Namun Malaikat tidak tahu ketika itu, bahwa manusialah satu-satunya makhluk Allah yang bisa menghadap Allah, dan manusia memiliki derajat Uluhiyah, yang bisa memasuki nuansa Uluhiyah atas kehendak Allah Ta’ala.
Al-Ghazali malah menggambarkan adanya empat sifat yang mendorong manusia mengikuti sifat tercelanya: Sifat kebuasan, sifat kebinatangan, sifat syaithoniyah dan sifat ambisi kehebatan.
Sifat-sifat inilah yang kelak bertarung dalam sebuah pergolakan terus menerus dalam arena jiwa manusia, pertarungan antara nafsu-nafsu di atas dengan ruh di medan qalbu. Jika qalbu terseret oleh nafsu, jiwa manusia akan sarat dengan keburukan. Sebaliknya jika ruh memenangkan pertarungan, jiwa manusia akan menjadi lebih baik.
Jika ruh memenangkan pertarungan itu, maka nafsu akan mengalami transformasinya menuju hakikat JATI DIRI yang sesungguhnya. Di awali dengan wilayah Nafsu yang Muthmainnah (jiwa yang tentram), kemudian hasrat ingin terus kembali kepada Allah (Nafsu Murji’ah). Jika itu sudah diraih, ia temukan kembali jiwa yang hanya ingin mencari Ridho Allah (Nafsu Rodhiyah), dan berujung pada nuansa Full Ridho Ilahi (Nafsu Mardhiyah). Kelak jika meraih mardhiyah, nafsu akan siap menjadi limpahan-limpahan Ilham ketaqwaan (Nafsu Mulhamah), lalu menanjak pada ketersingkapan dunia rahasia Ilahi dalam wilayah sirrnya (Rahasia Ruh), maka disanalah ia masuki hakikat ma’rifatullah (Nafsul ‘Arifah), dan seterusnya dan seterusnya …. Hingga kamilah (paripurna).
Oleh: M.Luqman Hakim, Sufi Meniti Jalan Ilahi Februari 2004



Selain cara mengatasi sebuah nafsu selain sholat apa lg..