2:05 pm - Thursday July 15, 5373

Zuhud Dan Pengertiannya Menurut Syar’i

Friday, 26 August 2011 20:26 | Tasawwuf | 0 Comment | Read 1115 Times

Definisi ZuhudTanbihun – Sering kita mendengar seseorang berbicara tentang perilaku ZUHUD, konotasinya seakan- akan seorang yang berperilaku zuhud (ZAHID) adalah seseorang yang berpenampilan sangat- sangat sederhana, kurang tidur, selalu berpuasa disiang hari dan melek dimalam hari, tidak mau bergaul dengan masyarakat kebanyakan bahkan MENGASINGKAN DIRI (UZLAH) dari kegiatan bermasyarakat dan menyembunyikan diri ditempat kontemplasi(Khalwat),menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bersifat duniawi dan kebendaan.

Kalau kita bandingkan dengan perilaku Nabi- nabi dan para sahabatnya yang tentunya mereka adalah contoh terbaik dari perilaku zuhud, ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran diatas.Nabi Sulaiman adalah seorang Zahid, namun singgasana kerajaannya dibuat dari emas berlian dan bertatahkan mutiara. Nabi Yusuf adalah seorang Zahid, namun dia adalah bendahara negara Mesir yang cupak penimbang gandumnya dibuat dari emas. Nabi Muhammad adalah seorang Zahid, namun beliau punya banyak istri, anak dan cucu dan beliau bergaul dengan masyarakat banyak untuk berdakwah. Sahabat Abu Bakar adalah seorang Zahid namun hartanya berlimpah sehingga sanggup menebus Bilal bin Rabah dari tangan Umayyah dengan harga diatas standart, Sahabat Usman adalah seorang Zahid, namun beliau juga kaya raya sehingga sanggup men- infaq- kan 500 kuda perang beserta perlengkapannya tatkala terjadi perang Tabuk.

Maka sejatinya seorang Zahid itu adalah seseorang yang telah sanggup tidak tergantung dari harta benda atau materi yang dimilikinya, walaupun ia adalah seorang yang kaya raya.
Dalam kitab Iiqoodhul Himam fi Syarhil Hikam, Syekh Ajibah Husna menukil sabda Nabi:

ليس الزهد بتحريم الحلال ولا بإضاعة المال ولكن الزهد أن تكون بما في يد الله أوثق مما في يدك ( إيقاظ الهمام في شرح الحكم 101)

“Zuhud itu bukannya mengharamkan sesuatu yang halal, atau menyia- nyiakan harta, sesungguhnya Zuhud itu adalah (keyakinan)bahwa apa yang ada dalam genggaman Allah itu lebih meyakinkan dari segala apa yang dalam genggaman tanganmu”

Syaikh Ahmad Rifa’i Berbicara Zuhud

Dalam Bab Zuhud dan Hubbud Dunya, Syekh H.A.Rifa’i juga menuqil hadist ini dengan penjelasannya:
Perhatian: Bukanlah yang namanya Zuhud itu
Adalah tak mencari harta- tak menggapai kemulyaan
Tak berpakaian bagus – tak suka kelezatan
Namun sebenar- benar makna Zuhud
Adalah menjauhi dunia yang HARAM
Itulah yang harus dijauhi secara berkelanjutan

Maka seorang yang miskin lagi sederhana belumlah tentu dia seorang Zahid bila dalam pikirannya selalu mengutamakan harta benda duniawi dibanding urusan akheratnya, sebaliknya seorang Bussinessman yang keras berusaha mengembangkan usahanya dan selalu sibuk, belumlah tentu dia seorang yang rakus dan TAMAK, bahkan mungkin ia seorang Zahid sejati bila yang dipikirkannya adalah menggunakan harta benda itu dengan niatan untuk mencari ridho ilahi..

Tatkala Syekh Abdul Qodir Al- Jilani ditanya tentang masalah harta benda duniawi, ia menjawab:

“Keluarkanlah harta duniawi itu dari dalam hatimu, biarkan ia sekedar berada ditanganmu, maka yang demikian itu harta benda dunia tak akan membahayakanmu” (Iiiqoodhul Himam fi Syarhil Hikam 444).

Maka berdasarkan keterangan- keterangan tersebut diatas, menjadi jelas bagi kita bahwa masalah Zuhud adalah masalah hati yang tidak bisa kita lihat dari orang lain dengan melihat seberapa banyak atau sedikit kekayaannya,  namun dapat kita rasakan dan koreksi bagi diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang yang  tergantung terhadap sesuatu yang bersifat materi atau justru kita dapat mengelolanya dengan baik sebagai wasilah untuk mencari ridho Allah.

Sahabat Abu Musa Al- Asy’ari meriwayatkan sebuah hadis Nabi berikut:

لا تسبوا الدنيا فنعم مطية المؤمن عليها وبها يبلغ الخير وبها ينجوا عن الشر (سراج المنير الجزء 1\434)

“Jangan kalian mencerca Materi/ duniawi karena materi/ duniawi itu adalah sebaik- baik prasarana bagi seorang muslim untuk meraih menuju kebaikan, dan dengannya pula seorang mukmin dapat selamat dari keburukan” (Sirojul Munir Juz 1/434).

Maka untuk menjadi Zuhud seseorang tidak harus menjadi miskin atau kelaparan terlebih dulu.
Bahkan kadang kadang seorang yang kenyang perutnya serta bersyukur kepada Allah, atau puas bergaul dengan banyak istri sesuai syariat serta mampu membuktikan syukurnya kepada Allah – nilainya bisa menyamai seorang yang sabar dalam melaksanakan puasa, atau bahkan melebihi seseorang yang membujang demi sepenuhnya mengabdi kepada Allah-

sesuai hadist Nabi:

الطاعم الشاكر بمنزلة الصائم  الصابر (رواه  الترمذي وابن حبان  وابن ماجه)

“Orang yang kenyang makan dan ia mampu bersyukur, itu setara derajatnya dengan seorang yang berpuasa dengan sabar”.
Banyak orang yang berpura- pura Zahid dengan sengaja mempertontonkan kesederhanaannya, bahkan BERTAPA  AMATI GENI,  mengurang makan dan tidur, ujung- ujungnya yang muncul adalah kesombongan karena merasa dirinya lebih unggul dari masyarakat banyak. Alih- alih ingin berlaku Zuhud yang terjadi justru Riya’(pamer)  dan Takabbur (sombong). Syekh H.A.Rifa’I menulis dalam kitabnya Abyan Al- Hawa’ij-  Bab Tasawwuf:
Bersabda Nabi Muhammad utusan Allah
“Bahwasanya orang yang makan dan bersyukur-
Melaksanakan kewajiban dan menjauhi maksiyat
Itu derajatnya lebih tinggi
Dan menempati derajat perilaku RIYADHOH
Yakni: ia berpuasa disertai sabar- tahan derita”
Itulah sabda Nabi Muhammad
Hendaklah usahakan memahami artinya
Orang Zahid mengurangi makan dan tidur
Tanpa disertai ilmunya agar bermanfaat diakherat
Itu bisa menjadi Racun  yang mematikan kebaikan
Sebab biasanya lahiriyahnya jadi pujian
Bagi orang awam, semuanya ingin menyanjung
Kepada pertapa (yang menjauhi) makan dan tidur
Sebaliknya………………
Orang yang mencintai dan mencari harta yang halal
Demi membantu kepada kebaikan Syara’ agama
Melaksanakan segala kewajiban, ia jauhi majlis haram
Walaupun ia KENYANG MAKAN- TIDUR- SEKS YANG HALAL
Pun demikian termasuk pengamalan CINTA AKHERAT
Melakukan kewajiban dan harta haram ia jauhi
Inilah Thoriqot sebenarnya, dari hukum agama tak menyimpang
(Abyan Al- Hawaij Bab Tasawwuf halaman 190- 192- 193)

Romadhon 1432, malam ke 24

Oleh : KH. Khaeruddin Khasbullah

Share on :

About

Syaikh Ahmad Rifa'i: Lumakuho siro kabeh nejo ing Allah,Tingkahe dangan lan abot sayah,Tingkahe sugih miskin gagah,Tuwin loro waras susah dalam manah. Follow @tanbihun_com

 

EBOOK GRATIS UNTUK ANDA !

Artikel Gratis Langsung Ke Email Anda, Jangan Lupa Cek Email Anda Untuk Aktifasinya !

 
Tagged with: ,

sifat-sifat terpuji,sifat sifat terpuji,pengertian zuhud dan contohnya,perilaku zuhud,contoh zuhud,sifat-sifat terpuji dalam islam,pengertian zuhud,sifat terpuji,contoh perilaku zuhud

Anda mungkin juga menyukaiclose