Kenalilah Yang Merusak Iman Kita

Hosting Unlimited Indonesia


Tanbihun - Kita semua pastinya sudah mengetahui makna dari kata-kata iman,yaitu percaya. Dan manusia sudah dikatakan beriman jika mempercayai adanya Alloh swt, adanya para malaikat, adanya kitab-kitab Alloh, adanya para nabi dan rasul , adanya hari kiamat, dan adaya takdir yang kesemuanya itu merupakan rukun iman. namun masih banyak orang yang mengaku beragama islam dan beriman tetapi dengan ringanya meninggalkan kewajiban-kewajibannya sebagaimana orang islam. itu semua terjadi karena kita belum memahami hal-hal yang bisa memperkokoh dan merusak iman.

Pertama akan saya bahas hal yang bisa merusak atau membatalkan iman.menurut KH.Ahmad Rifa’i  dalam kitab Takhyiroh mukhtasor diterangkan bahawa hal yang dapat membatalkan iman itu ada dua :

  1. Ragu dengan syari’at yang datangnya dari nabi Muhammad S.A.W
  2. Benci terhadap agama nya nabi Muhammad

Cukup jelas kiranya keterangan di atas perkara yang membatalkan iman. Hal selanjutnya yang harus kita perhatikan adalah sesuatu yang menjadi sah tidaknya iman seseorang.

Dalam kitab takhyiroh mukhtasor karangan K,H Ahmad Rifa’i di sebutkan;

Utawi syarat sahe iman lan syahadat iku arep asih ing sekabehe syare’ate nabi Muhammad.

artinya; syarat sahnya iman itu jendaknya mencintai syari’at nya nabi Muhammad S.A.W

Dalam kitab riayatal himmah karangan K.H.Rifa’i disebutkan kalam ulama;

شرط الايمان التسليم والانقياد

Syarat sahnya iman adalah taslim[pasrah diri] dan inqiyad[mencintai dan patuh], baca artikel berikut :Taslim dan Inqiyad Merupakan Syarat Sah Iman.

Orang yang sudah sah imannya adalah orang yang mencintai syari’at islam dengan menjalankanya tanpa ragu sesuai dengan syarat rukunnya.

Dalam kitab tersebut dijelaskan lebih dalam lagi oleh K.H.Ahmad rifa’i:

Tanbihun lamon tan ginawe taslim anutan

iku dadi syarat sah e maqbule iman

moko dadi sepi syara’ parintahan

muhung pangestu parintah tan linakonan

temah tan nono bedane wong mukmin jujur

lan antarane wong podo munafiq kufur

muhung ngucap amanna ginawe masyhur

ngimanaken kawulo ing qur’an pitutur

tan nono taslime anut parintahan

mukmin lan kafir ora nono kinaweruhan

wong ngucap amanna temen lan gorohan

podo kedhohir rusuh ilang parnatan

ikulah nyoto rusak ukarane syari’at

ilang taslime ing rasul ulil amri di angkat

lan ben alim adil ulil amri tan lepat

kulma’e rosululloh nabi kito muhammad

Maksud dari kata-kata tersebut adalah jika taslim tidak menjadi syarat sahnya iman maka tidak ada syari’at yang dijalankan. sehingga tidak ada bedanya orang beriman dan tidak beriman )kafir). mereka yang beriman dengan menjalankan syari’atnya  dan mereka yang hanya mengaku punya iman tapi tidak mejalankan syari’at islam.

jadi orang yang benar-benar beriman adalah orang yang dengan setia menjalankan syariat islam yang dibawa oleh nabi muhammad S.A.W dan disampaikan kepada kita melalui para ulama’. bukan orang yang mengaku beriman tetapi enggan menjalankan sholat,puasa,haji bagi yang kuasa atau yang sering disebut islam KTP.

Dalam kitab ri’ayatal himmah ada juga ulama’ yang mengatakan:

قال العلماء اهل السني ومن تلفظ بالشهادتين ولم يعتقد ﻔﻫﻭﻤﻨﺎﻔﻖ ومن اعتقد واقرولم يسلم حكما من احكم الشرع المظهر بعد قيام الحجة  ﻮﻴﺄﺑﻰ عنه فهو ابليس ﻤﻦﺍﻷﺑﺎﻠﺴﺔ ومن جملة الكافرين

artinya:

Barang siapa mengucapkan dua kalimat syahadat dan tetapi didalam hatinya  tidak percaya maka dia adalah munafiq. Dan barang siapa percaya tetapi tidak taslim terhadap hukum-hukum syara’ yg sudah jelas ada dan membiarkan saja [tidak peduli] dengan syara’ tersebut maka dia adalah iblis dari golongannya para iblis,dan termasuk golongannya orang-orang kafir.

dari perkataan ulama’ tersebut jelas kiranya bahwa mukmin sejati adalah mereka yang patuh menjalankan syari’at islam dengan setia dan sungguh-sungguh.

Alloh berfirman di dalam al-qur’an surat Al-baqoroh ayat 208:

 

artinya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam agama islam keseluruhan,dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan.Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

inti dari article ini mengajak kita sebagai umat islam untuk melakukan segala sesuatunya berdasarkan syari’at islam baik ibadah kepada Allah maupun muamalah kita sehari hari harus sesuai dengan printah printah dan ajaran islam.(nank)

 

4 Comments on Kenalilah Yang Merusak Iman Kita

  1. Mohon maaf, mungkin ada salah ketik. Walaupun tak seberapa namun cukup mengganggu. Ijinkan memberikan koreksi.

    ﻮﻫﻮﻤﻨﺎﻔﻖ ﻔﻫﻭﻤﻨﺎﻔﻖ karena “jawabus Syarthi”

    ﻭﻴﻌﺐ  ﻮﻴﺄﺑﻰ dari ﺃﺑﻰ – ﻴﺄﺑﻰ = membangkang

    ﻤﻨﺎﻻﺑﻠﺴﺔ  ﻤﻦﺍﻷﺑﺎﻠﺴﺔ salah ketik

    Sekali lagi mohon maaf atas kebodohan saya.

    • terima kasih atas koreksinya,sudah kami ralat, untuk para pembaca lainnya, kiranya menemukan kesalahan redaksi, dimohon bantuannya untuk menginformasikannya kepada kami di kolom komentar yang sudah tersedia.
      terima kasih.

  2. Assalamualaikum… Mas saya hendakbertanya,ini penting sekali. Bagaimanakah jika seorang muslim yg senantiasa beusaha mengamalkan ilmu, namun selalu mendapat halangan, dan masih senantiasa melakukan maksiat dan dosa?? apakah itu masih bisa disebut muslim yg kaffah? bagaimanakah jika kita selalu gagal dalam bertaubat? (alias mengulangi kesalahan yg sama?)

  3. Wa’alaikumussalam…
    Setiap muslim pasti akan selalu mendapati halangan ketika ia ingin melakukan ibadah
    disinilah peran dari godaan iblis yang selalu ingin menghalangi supaya tidak jadi melakukan ibadah.
    Senantiasa amalkan setiap ilmu yang saudara peroleh, meskipun perbuatan dosa kerap dilakukan
    tentunya dibarengi dengan permintaan ampun (dengan bertaubat), inilah perbedaan antara seorang muslim dan mukmin
    saudara bisa baca di artikel ini (kecemasan seorang mukmin) insya allah membantu.

    satu hal yang tidak boleh dilakukan adalah, ketika kita ingin beribadah tapi hati kita masih minder
    dengan berbuatan dosa. hingga ahirnya kita mengurungkan niat untuk beribadah.

    sebagai contoh: umpama kita ingin melakukan suatu ibadah, karena takut dianggap riya’ oleh manusia hingga tidak
    jadi melakukan ibadah tadi, maka saat itu juga niat kita yang ingin terhindar dari sifat riya berubah menjadi riya’
    (meski kita tidak jadi melakukan ibadah tersebut)

    seperti yang sudah dijelaskan oleh seorang ulama “tarkul ‘amal li ajlinnas fahuwa riyaun”
    bahwa meninggalkan amal karena manusia itu termasuk bagian dari riya.

    nah, sekarang tinggal diaplikasikan perumpamaan tadi dengan yang saudara alami.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*