
Oleh: Mufid Bani Adam
Mukaddimah
Bulan Robiul Awal adalah bulan kelahiran junjungan semesta alam, penghulu para Nabi dan utusan, sayidina Muhammad SAW. Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasulullah untuk menebarkan kasih sayang kepada segenap makhluk di seluruh alam.
Mensyukuri kelahiran Sayidina Muhammad SAW adalah suatu keniscayaan sebenar-benar dan sebaik-baik syukur, syukur paling hakiki, sebab sayidina Muhammad adalah anugerah Allah kepada seluruh makhluk semesta raya.
Ingatlah dalam sebuah hadist kudsi yang berbunyi:
لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ لَمَّا خَلَقْتُ الْأَفْلَاكَ
Jika tidak karena Engkau. Jika tidak karena Engkau, maka tiada aku ciptakan alam semesta raya pun.
Demikian Rasulullah adalah wasilah antara kita dan Allah.
Allah berfirman dalam surat Q.S Al-Maidah ayat: 35
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
Kehidupan Nabi Muhammad penuh dengan keteladanan yang sempurna, mulia, bertabur segala puja, bukan karena di puja. Beliau menjadi mulia dan indah sempurna, namun pujian itulah yang menjadi indah sempurna dan mulia karena di sandarkan pada pribadi agung. Sayidina Muhammad dalam qosidah dikatakan.
مُحَمَّدٌ بَشَرٌ لَيْسَ كَا الْبَشَرِ # بَلْ هُوَ كَا لْيَقُوْتِ بَيْنَ الْحَجَرِ
Sayidina Muhammad adalah manusia bukan sembarang manusia, melainkan beliau laksana yaqut (batu permata mulia) diantara bebatuan biasa.
Sedemikian mulianya junjungn kita Sayidina Muhammad SAW bagi kita umatnya maka sudah sepantasnya jika kita bersikap santun dan penuh etika kepadanya. Maka menyantunkan etika bersama Rasulullah adalah suatu keniscayaan tiada terbantah.
Wajib! sebab dengan beretika bersama Sayidina Muhammad tidak hanya mendatangkan pahala semata, namun akan senantiasa mendapat anugrah dan hidayah, taufiq serta perlindungan dari Allah daripada kerusakan amal-amalnya, sebab apabila seseorang yang telah mengaku mukmin, namun tiada beretika kepada Rasulullah maka dikhwatirkan amal-amalnya menjadi hampa.
Allah berfirman dalan QS. Al Hujurat : 2
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
Na’udzubillah! maka dari itu marilah kita menyantunkan etika bersama Rasulullah.
Maulid Nabi bagian Etika bersama Rasulullah
Ayat di atas tampaknya hanya dapat dilaksanakan saat beliau hadir di tengah-tengah kita, namun ternyata ayat di atas belum dan tidak di nasakh (dihapus). Maka pada zaman sekarang ini, ayat suci di atas tetap harus ditaati dan dipatuhi.
Cara melaksanakannya dengan menyebut nama beliau dengan sebutan yang sopan, dan berbicara tentang beliau dengan kata-kata yang baik dan benar, sebab bicara tentang Rasulullah sama persis dengan berbicara di hadapan beliau. Dan janganlah bertingkahlaku seperti orang-orang munafiq, yaitu orang yang menggantungkan etikanya pada sebuah kehadiran dan keberadaan. Mereka orang-orang munafiq tidak mau menghormati dan menyantunkan etika kepada siapapun (termasuk kepada Rasulullah) kecuali yang ada dihadapan mereka saja. Di depan hormat, dikala hadir di tengah mereka hormat, namun ketika di belakang tiada beradab.
Salah satu dari sekian etika yang santun bersama Rasulullah SAW adalah dengan merayakan maulid Beliau. Sebab orang yang bersuka cita dan senang dengan terutusnya beliau sebagai Rasul, senang dengan sunah Beliau dan dengan syafaat beliau di akhirat nanti.
Perayaan maulid Nabi sangat tidak layak diharamkan dan di bidahkan, lebih tidak layak lagi apabila mengharamkan makanan yang disajikan dalam upacara maulid, padahal makanan itu tidak mengandung sesuatu yang haram seperti khamr dan lain-lain dalam upacara maulid, di sajian acara-acara yang mengandung segala kebajikan, dilantunkan madah, puji-puji untuk Rasulullah, mengenang keteladanan beliau dan dilantunkan shalawat Nabi.
Dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 Allah telah berfirman:
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
Juga di bacakan ayat-ayat suci Al Qur’an dituturkan nasehat-nasehat, hikmah, mauidhoh hasanah, tausiyah dll. Saling berpesan kebajikan (lihat QS Al-Ashr). Kaum muslimin saling berkumpul, bersilaturahmi saling mengasihi dan menyayangi dan saling menjaga persatuan, berdoa bersama di bawah satu panji, panji agama Islam. Muslim yang cerdas adalah apabila ia mampu membedakan hukum sebuah acara dengan hukum sesuatu yang terjadi di dalam acara.
Perayaan maulid Nabi yang benar dan baik adalah apabila dihiasi dengan kegiatan-kegiatan positif yang telah tersebut di atas tadi. Seseorang yang telah menemukan manisnya keimanan maka ia akan menemukan manisnya syariat Allah dan manisnya cinta kepada Rasulullah, dengan memperbanyak shalawat memuji Rasul mendengarkan dan mengkaji sejarah Rasul supaya dapat mengikuti keteladanan Rasul dan mengaplikasikannya dalam setiap segi kehidupan sekedar kemampuannya.
Dan hal tersebut adalah anugerah Allah SWT. kepada orang-orang shalih
Menyebut dengan Sebutan Sayidina Muhammad
Bagian etika bersama Rasulullah
Penyebutan tuan, Bapak yang terhormat, yang mulia dan sebagainya kepada orang-orang yang berkedudukan tradisi bangsa Indonesia, tiada lain karena para penyebutnya (bangsa Indonesia) merupakan orang yang tahu diri dan budiman namun sayang seribu kali sayang, kini di Indonesia terdapat sekelompok orang yang ogah, emoh, anti menyebut Sayidina (tuan atau penghulu kami) kepada baginda Agung Muhammad SAW. lebih ironis lagi, kelompok itu dari golongan orang yang beragama Islam.
Mungkin mereka telah melupakan atau belum pernah membaca sama sekali firman Allah
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
Atau mungkin, mereka telah membacanya, namun karena mereka menganggap Nabi Muhammad bukan seorang menteri atau rektor sehingga mereka menganggap tidak pantas untuk disebut Sayidina (tuan kami yang mulia).
Sebagaimana kelakuan sebagian kelompok orang yang tiada mau merayakan maulid Nabi bahkan membidahkannya namun disisi lain mereka senang-senang saja menikmati hari libur pada tanggal 21 April sebagai hari Kartini. Aduhai alangkah bodohnya kelompok orang yang demikian ini.
Hari Kartini adalah hari libur Nasional di mana seluruh elemen bangsa ini merayakan hari maulid ibu Kartini berskala nasional, karena beliau adalah pahlawan kita. Lalu maulid Nabi adalah merayakan hari kelahiran Sayidina Muhammad. Beliau bukan hanya pahlawan kita, bangsa Indonesia namun pahlawan seluruh alam raya ini. Maka berdosakah jika kita bermaulid Nabi? Atau ganti saja dengan istilah dengan hari Sayidina Muhammad!
Padahal pesan Al-Qur’an sebetulnya sudah cukup jelas dalam hal penyebutan panggilan Rasul. Meskipun demikian jelasnya, toh etika adalah sebuah anugrah dari Allah kepada orang-orang yang punya rasa cinta. Tanpa pesan Al-Qur’an pun, jikalau rasa cinta dan hormat sudah tertanam adanya, maka etika sudah pasti menjelma.
Bukankah al-Qur’an tiada pernah berpesan untuk menyebut tuan kepada pejabat politik menteri, rektor, atau raja? Lantas mengapa tuan tiada disebutkan kepada Sang junjungan alam, padahal pesan ilahi yang tegas dan jelas sudah ada? Sekali lagi etika adalah anugrah Allah SWT.
Sekelompok orang-orang yang anti, ogah, emoh menyebut Rasulullah sebagai Sayidina (tuan kami) karena mereka telah menyamaratakan posisi mereka dengan posisi Rasulullah dengan beralasan pada firman Allah QS. Fushilat : 6
Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu.
padahal jika mereka mau memperhatikan ayat selanjutnya, maka mereka tidak akan merasa sama dengan beliau. Sebab meskipun sama-sama manusia, akan tetapi sangat berbeda di banyak sisi lainnya: ayat selengkapnya adalah
“….diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,
Maka apakah orang-orang itu juga diberi wahyu seperti baginda Nabi Muhammad?
Kemudian, dalam menyebutan Sayidina (tuan kami) harus berdasar pada sebuah kaidah yang berbunyi.
أَلْسِّيَادَةُ تَقْتَضِىْ التَّجَانُسْ
Ketuanan itu identik dengan kesamaan jenis.
Artinya seseorang tidak dapat mengatakan gajah adalah tuannya burung atau buaya adalah tuannya ikan, maka tuan setiap jenis adalah yang terbaik dan termulia serta tinggi diantara jenisnya. Orang-orang kafirpun ada tuannya, yaitu yang paling kafir di antara mereka mereka akan mengatakan di hari akherat nanti seperti dalam surat QS. Al-Ahzab ayat 67
Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar).”
Lalu, Sayyidina Said bin Ubadah adalah tuannya orang-orang Ansor, sehingga ketika beliau hadir menjumpai orang-orang Ansor yang tengah duduk bersama Rasulullah SAW maka Rasulullah bertikah kepada mereka: “Berdirilah kalian untuk menyambut tuan kalian”
Seorang suami juga merupakan Sayid (tuan) bagi istrinya. Lihat dan bacalah QS. Yusuf ayat 25.
Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan Kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?”
Nabi Yahya AS. pun menjadi Sayid (tuan) sebagaimana firman Allah QS. Ali Imran ayat 39 sebagai tuan dan sebagai penahan.
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh”.
Maka dari itu, sudah tidak perlu syok (ragu lagi) bahwa Rasulullah Sayyidina Muhammad SAW adalah Sayid (Tuan dan penghulunya) umat manusia yang absolute, mutlak, tiada terbantahkan. Sebab Allah telah memuliakan umat manusia dengan firmannya dan kami telah memuliakan umat manusia QS. Al-Isra: 70)
Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Selanjutnya Allah menjadikan Sayyidina Rasulullah Muhammad SAW sebagai manusia termulia dari seluruh manusia yang ada. Mari kita simak surat Al-Hujurat ayat13.
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Satu orang yang paling bertakwa adalah Rasulullah, sebab, ayat di atas tidak menyatakan (atqiya’ikum) dengan bentuk jamak, melainan (at qoqum) satu orang saja , yang paling bertaqwa deantara seluruh manusia ,siapa lagi kalau bukan Rasulullah saidina Muhammad SAW.
Rasulullahpun pernah bersabda:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ أَدَمْ وَلَا فَخَرْ
Aku adalah tuannya umat mausia dan aku tidak bangga (sombong).
Artinya bahwa kebanggaan itu tidaklah perlu dirasakan beliau, akan tetapi umat manusialah yang seharusnya dan sepatutnya berbangga dengan kesayidinaan Beliau atas mereka.
Oleh karena itu Rasulullah adalah tuannya manusia, maka tidak keliru jika kita sepakat jika menyebut atau menggolongkan orang yang tidak menyebut beliau sebagai tuan (sayidina) sebagai golongan orang yang bukan dari golongan manusia. sesuai dengan kaidah penyebutan Sayid di atas.
Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat dan dapat mencerahkan kita semua dan menjadi motivasi bagi kita untuk selalu menjaga etika kepada orang yang lebih tua dan mulia dari kita, terlebih kepada baginda Nabi Muhammad SAW.
Akhirnya sebagai penutup, Penulis sajikan sebaris insyad dari Sang Pecinta Nabi. Sayidi Syeikh Muhammad Usman Al-Burhany
مَوْلِدَ النُّوْرِ وَالسُرُوْرِ تَجَلَّى # كَاِشفُ الْغَمِّ نَتَّخِذْهُ وَكِيْلَا
Kelahiran Nabi sinarnya dan kebahagiaan selalu memancar #
Wahai Sang pelipur lara dan gundah gulana.
Kami ganyungkan harapan bagi padamu Sebagai wakil Allah
Akhirnya Jaza kumushomad ahsana madad
Mari Beramal Dengan Menyebarkan Artikel Ini :