TANBIHUN ONLINE

Menurut Pendekatan Matematika Allah Itu Maha Satu Atau Maha Esa?

 Breaking News
  • May Day 2015 Buruh Wacanakan Pembentukan Partai Tanbihun.com- Pengusaha dan Buruh adalah dua sisi keping mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Buruh butuh pengusaha dan pengusaha butuh buruh. Tapi dalam perjalanan waktu sering buruh tidak setara dan...
  • Mary Jane Ditunda Eksekusinya, Bagaimana Penundaan Hukuman Ini Menurut Islam? Tanbihun.com- “Eksekusi Mary Jane ditunda” ujar Kapuspenkum Kejagung Tony Spontana saat dihubungi, Rabu (29/4/2015). Keputusan ini diambil setelah Presiden Filipina menelpon Presiden Jokowi, bahwa perekrut Mary Jane telah menyerahkan diri...
  • Keistimewaan Senior Atas Yunior “Qod Yuujadu fil Mafdhuul Maa Laa Yuujadu Fil Faadhil” (Kadang ditemukan keistimewaan bagi yunior yang tidak ada bagi senior) Tanbihun.com- Kaidah ini yg digunakan menjawab ulama ketika ditanya: mengapa Isa...
  • Petunjuk Nabi saw Tentang Konflik Yaman (antara hijrah dan iqomah) Tanbihun.com- al iimaanu Yamaanun wal hikmatu Yamaniyyatun, Yaman adalah poros dan gambaran kuatnya iman dan hikmah.. Hingga Nabi saw pun menegaskannya Ditengah konflik perang “saudara seislam”, banyak ijtihad ulama dalam...
  • Kartini apa ‘Aisyah? Tanbihun.com- Jika Kartini dianggap mendobrak kejumudan berpikir wanita, Aisyah yg jauh-jauh hari melawan mainstream Jahiliah yang mendiskreditkan wanita. sampai beliau mengatakan: وقالت عائشة نعم النساء نساء الأنصار لم يمنعهن الحياء...
April 13
10:34 2012

ALLAH MAHA ESA?

Tanbihun.com- Esa bermakna tunggal, sendirian yang tidak berteman, beristri, dan tidak ada sekutu baginya. Tentunya makna ini sangat sesuai dengan sifat Allah swt. Yang Maha Esa dan Tunggal Dzat, Sifat, dan Af’al-Nya. Esa Dzat berarti tidak tersusun Dzat-Nya (kam muttashil) dan tidak ada dzat lain yang menyamai-Nya (kam munfashil). Tunggal sifat-Nya bermakna tidak ada dua sifat bagi-Nya (kam muttashil), misalnya: dua qudrah, iradah, ilmu, dan sifat-sifat lainnya. Juga Maha Tunggal Pemilik sifat-sifat itu, tidak ada yang memiliki sifat seperti-Nya. Sedang esa perbuatan-Nya berarti, hanya Dia Yang Menciptakan semua tingkah laku kehidupan dalam dunia ini. (Kifayatul Awam, 35)

ALLAH MAHA SATU?

Ada yang keberatan dengan paradigma ini. Menurutnya, Tuhan bukan satu seperti bilangan yang dapat dibagi dan diprosentase, serta bisa dibuat pecahan-pecahan dari beberapa bilangan. Dia Bukan Maha Satu yang bisa dipecah-pecah, tapi Dia Maha Nol. Yang tidak akan pernah mengalami satu-satuan kecil, dan tidak bisa terbagi. Bagaikan angka nol yang tidak bisa terbagi, terpecah, dan dikurangi lagi. Utuh. Bukan satu yang bisa dipahami tersusun dari gabungan-gabungan angka-angka pecahan desimal dari 0,1, 0,2, 0,3 dan seterusnya. Atau bisa dibuat pecahan biasa dari ½, 1/3, ¼, dan lainnya. Inilah argumentasi yang mereka bangun dan berusaha menafikan sifat “Maha Satu” bagi Allah swt.

BAGAIMANA PANDANGAN ULAMA?

Semua Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah telah bersepakat (ijmak) bahwa Allah swt boleh disifati dengan “Al-Fardu” dan “Al-Wahidu”. Hal ini berdasarkan beberapa dalil Quran dan hadis. Ada satu dari Muktazilah yang tidak setuju dengan pendapat mereka. Yaitu Ibad bin Sulaiman ash-Shaimury, berpendapat tidak diperbolehkan mengucapkan sifat tersebut. Alasannya adalah; kata fardu itu berarti ganjil, yang membandingi genap. Sebagaimana bilangan ada yang ganjil dan ada yang genap. Dan Allah swt bukan ganjil, tapi tunggal. Namun hal ini disanggah oleh Imam az-Zabidi al-Murtadha, dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin 2/20, dengan beberapa hal berikut: (1) Ijmak ulama sebelum lahirnya Ibad bin Sulaiman, yang memperbolehkan penyebutan tersebut, (2) alasannya di atas tumbang dengan penyebutan sifat Allah sebagai Maha al-Wahidu, yang berarti “Satu”, padahal sifat ini juga membandingi: ats-Tsani (kedua), ats-Tsalits (ketiga), dst., (3) al-Fardu bermakna tidak terbagi dua, dan Allah swt itu tidak terbagi dua, tiga, dan bagian-bagian lainnya.

BAGAIMANA MENURUT PENULIS?

Dalam hal ini, kita harus berpegang kembali kepada kaidah umum dalam nama-nama Tuhan. Yaitu: Nama-nama Allah swt itu bersifat tauqify (bimbingan wahyu), tidak boleh ijtihad. Jika ada nama yang membingungkan (mutasyabih) dan ada dalilnya, maka diterima saja. Dan ini masuk dalam penangan ayat-ayat mustasyabihat yang ada perbedaan pandangan menurut ulama. Jadi, dari kerangka berpikir ini, dapat penulis simpulkan bahwa: Maha Tunggal dan Maha Satu adalah arti dari al-Fardu dan al-Wahidu. Secara bahasa, dari beberapa kamus Arab-Indonesia, kedua kata itu dimaknai dengan kedua makna tersebut. Sama dengan arti ‘bersemayam’ untuk ‘istiwa’. Dan kita memaknai istiwa’ dengan bersemayam. Sedang maksudnya, kembali pada dua kaidah penanganan ayat mutasyabihat. Artinya, kita boleh mengatakan: Allah Maha Satu, dan menyerahkan maksudnya pada Tuhan, atau memaksudkan satu yang berarti tunggal dan tidak ada teman sekutu bagi-Nya.

Tags
Share

Artikel Terkait

3 Comments

  1. hermawan
    hermawan March 22, 00:47

    terima kasih saya ucapkan kepada bapak yang telah memberikan saya jalan keluar dari pertanyaan teman saya yang pernah ditanyakan kepada saya, dahulu saya berfikiran bahwa qulhu allahu ahad itu artinya katakanlah tuhan itu satu, apa lagi dalam penamaan hari ada hari ahad, senin(isnin),dll

    Reply to this comment

Write a Comment

Latest Comments

Melu nimbrung... amber Olih tambah ilmu ...

Assalamu'alaikum W W Kepada Admin Yth. ini sangat bagus sekali karena masyarakat luas bisa menikmati hasil karya...

maaf izin share, terima kasih :) ...